Posts tagged ‘sulawesi’

Tana Toraja, Perpaduan Eksotika Alam dan Budaya yang Unik

tanah-torajafoto. Endang Jamhari

“Tana Toraja memiliki eksotika alam yang unik dan budaya yang tiada duanya. Tidak ada budaya maspasilaga tedong (mengadu kerbau) di dunia ini kecuali di Tana Toraja. Begitu pun dengan budaya massisemba dan sisambak.Magnet pariwisata Toraja makin besar dengan kuburan yang berada di atas tebing dan keindahan sungai yang dimiliki,” ucap sahtul yasin limpo, Gubernur Sulawesi Selatan di penutupan Lovely December akhir Desember tahun lalu.

Sadar Tana Toraja memiliki magnet besar untuk menyedot wisatawan, Sahrul Yasin Limpo terus mempercantik Tana Toraja dengan berbenah diri di segala aspek. Mulai dari menggelar acara-acara budaya, transportasi umum yang disertai jalan mulus, hotel bintang 4 berdiri megah. Kesadaran masyarakat dalam menjaga budaya dan nilai-nilai leluhur, keamanan, hingga bandara Pongtiku yang bisa diakses dengan pesawat Cessna dari Bali atau Makassar yang memakan waktu 45 menit.

Hasilnya? Melancong ke Tana Toraja bak memasuk dua zaman; masa lalu dan modern. Modernisasi yang tak terbendung ternyata bisa hidup selaras dengan warisan leluhur masa lalu Tana Toraja. Moderninasi juga mengembangkan Tana Toraja menjadi dua kabupaten; Toraja Utara dan Tana Toraja. Namun perubahan itu tidak memarjinalkan warisan budaya lampau. Justru saling mengisi hingga menjelma menjadi kekuatan wisata.

Pariwisata Toraja kini kembali bergeliat. Meski tidak sebanyak sebelum bom Bali I dan II meletus, wisatawan mancanegara mulai berkunjung lagi ke Tana Toraja yang dikelilingi gunung ini. Wisatawan asal Spanyol dan Perancis yang biasanya tinggal berminggu-mminggu.

Ada juga wisatawan Jepang dan Australia. ”Sekarang, seminggu sekali saya mengantar turis dari Makassar ke Toraja,” ucap Faisal, pengemudi mobil rental. Tidak hanya wisatawan mancanegara, Tana Toraja juga masih menjadi destinasi wisata bagi wisatawan domestik. Hampir setiap jam, ada bus umum dari Makassar ke Tana Toraja, dengan waktu tempuh sekitar 8 jam.

Jika Anda ingin lebih nyaman, banyak tersedia mobil rental yang didominasi milik mantan wakil presiden Jusuf Kalla. Jangan khawatir, dijamin perjalanan Anda tidak membosankan. Pasalnya, pemandangan indah di sepajang jalan sayang untuk dilewatkan. Pemandangan indah itu tersaji di daerah Pangkep, Barru dan Pare Pare yang memadukan keindahan pantai dan hutan tropis.

Jika hendak istirahat, sebaiknya di Pare Pare. Di Kabupaten ini, Anda bisa berwisata kuliner yang sajian utamanya seafood. Urban Style jatuh hati pada rumah makan Asia. Ikan bakar Baronang yang disantap dengan sambal petis. Luar biasa enak. Sambal petisnya tidak terlalu amis, bahkan rasa asam manis lebih kuat dan mampu menghilangkan bau amis. Awak Urban Style yang tidak suka petis, untuk pertama kalinya bersedia makan sambal berwarna hitam ini.

Persis di sebelah rumah makan Asia, terdapat rumah makan Sedap yang menu utamanya juga seafood. Rasa penasaran telah mengantarkan Urban Style ke rumah makan yang selalu ramai pengunjung ini. Bahkan pengunjung rela antre berlama-lama. Dalam kondisi kenyang, Urban Style agak malas menyantap Kepiting Saus Asam Manis. Tapi bumbu yang meresap ke dalam daging kepiting membuat kami tak kuasa menolaknya. Lezat.

Usai berwisata kuliner, buah durian yangn berasal dari daerah Sidrap, dengan mudah Anda temui di sudut-sudut jalan. Di Pare Pare juga tersedia barang bermerek asal Thailand dan Singapura, bahkan di tempat ini juga banyak dijual barang bekas asal kedua negara tersebut.

Memasuki kabupaten Enrekang, sepanjang jalan banyak penjaja aneka buah dengan harga miring. Di Enrekang, Anda wajib istirahat di gunung Bambapuang atau Gunung Nona atau dikenal dengan nama Erotic Mountain. Bentuknya menyerupai alat vital wanita yangn terbentuk karena erosi. Sejatinya gunung ini sangat indah, apalagi

menjelang sore. Namun sayang, gunung ini mulai tandus dan jika dibiarkan akan terjadi erosi lagi dan mungkin akan terbentuk alat vital wanita di bagian lain gunung itu. Melihat kondisi itu, seorang teman nyeletuk,” Pasti nanti namanya berubah menjadi Double Erotic Mountain.”

Memasuki Tana Toraja, Anda akan mulai merasakan aura mistis. Apalagi saat melihat Tongkonan (rumah adat Tana Toraja) di atas bukit sepanjang perjalanan. Aura mistis itu perlahan mulai redup dan lenyap saat memasuki Makale, pusat pemerintahan kabupaten Tana Toraja. Ciri khas Makale kolam dan Patung Toraja Bersatu yang terletak di tengah kota. Agar bisa menjangkau semua tempat wisata di Tana Toraja, sebaiknya menginap di Rantepao, pusat pemerintahan kabupaten Toraja Utara. Di Kabupaten ini terdapat beberapa wisata menarik, di antaranya:

KE’TE KESU

Inilah tempat wisata yang paling dekat dari Rantepao. Desa Ke’te Kesu terletak disekitar kecamatan Kesu atau 4 km di sebelah timur laut Rantepao. Tempat ini salah satu wisata popular di Toraja. Selain letaknya dekat dengan

Rantepao, magnet tempat wisata ini memiliki Tongkonan dan lumbung padi berusia ratusan tahun, menhir dan kerajinan tangan. Kerajinan tangan yang dijual beragam dan harganya cukup miring dibanding di pusat kota. Di belakang desa ini terdapat lokasi pemakaman berupa liang, kuburan gantung dan paten atau makam berbentuk rumah. Desa wisata ini mudah dijangkau dengan angkutan umum dari Rantepao. Pilih angkot jurusan La’bo. Anda juga bisa naik ojek.

LONDA

makam-tanah-torajaLokasinya terbilang dekat dengan Rantepao sekitar 5 km. Dari jalan raya tidak terlalu jauh, jalannya cukup bagus dan tidak terjal. Hanya jalannya sempit, jika berpapasan dengan kendaraan roda empat, salah satunya harus mengalah.

Nuansa mistis langsung terasa saat memasuki pintu gerbang. Udara lembab dan dingin juga langsung menyambut Anda. Pematung kayu yang tengah mengukir wajah orang yang sudah mati kian menguatkan aura mistis.

Lokasi ini sebuah kuburan gua kapur kuno milik Lengkong dan To’Para’pak, keturunan Tandilino, orang pertama yang membuat erong (peti jenazah dari kayu). Untuk tiba ke kuburan ini, Anda harus menuruni anak tangga sekitar 100 meter.

Sebelum menuruni anak tangga tersebut beberapa orang akan menawarkan jasa lampu sebagai penerang saat di dalam gua. Harga satu lampu Rp. 20 ribu, itu belum termasuk jasa pembawa lampu yang merangkap tour guide. Peti jenazah berserakan di depan gua yang jatuh dari atas tebing.

”Untuk mengangkat kembali peti jenazah ini harus disertai ritual khusus yang menelan biaya cukup banyak. Peti jenazah yang berada di atas tebing itu berasal dari keluarga yang status sosialnya tinggi ,” ucap tour guide.

Udara lembab kian terasa saat memasuki mulut gua. Di dalam gua banyak peti jenazah (erong) berserakan. Ada juga yang diselipkan di dalam batu, bahkan ada tulang berserakan karena petinya sudah hancur. Kebetulan kami melihat peti jenazah yang baru 3 bulan. Anehnya, tidak ada bau busuk.

Ada juga sepasang tengkorak yang konon mati bunuh diri. “Konon mereka mati karena bunuh diri. Percintaan mereka tak direstui keluarga,” ucap tour guide.Romeo dan Juliet versi Tana Toraja. Peti jenazah tersebut dikumpulkan berdasarkan keluarga dan diberijarak antara keluarga satu dengan yang lainnya. Konon, jenazah yang berada di Londa ini berusia 500 tahun.

LEMO

makam-tanah-toraja2Makam-makam di Londa (Foto.ENDANG JAMHARI)

Terletak di kecamatan Makale Utara. Ini situs pemakaman kepala-kepala suku di Toraja di masa lampau. Deretan tau-tau, menjadi penjaga makam tersebut. bSitus ini milik Songgi’ Patalo, yang pertama kali membuat kuburan dalam batu. Lokasi ini paling baik di kunjungi di pagi hari. Masih banyak lagi tempat wisata di Tana Toraja yang cukup menarik, di antaranya Kambira, Lo’ko Mata, Marante dll. Tentu semuanya berkaitan dengan makam kuno. US

Membanting Kemurungan di Bantimurung

Sedang murung atau sedih? Jangan risau.

“Banting saja kemurunganmu di Bantimurung,” seloroh kawan saya saat kami bercakap mengenai obyek wisata andalan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Jaraknya lebih kurang 45 km dari Kota Makassar.

Dan memang benar, selama saya melewatkan masa SMA di Maros dulu (1986-1989), Bantimurung menjadi pilihan berwisata bagi kami sekeluarga dan teman-teman sekolah. Selain memang tempatnya dekat, air terjun serta obyek wisata lain yang ada di sekitarnya menawarkan keindahan. Kemurungan itu rasanya bagai terbanting. Dari pusat kota Maros, Bantimurung sudah dapat dijangkau dengan waktu lebih kurang 20 menit dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum.

Secara geografis objek wisata Bantimurung memiliki luas wilayah mencapai 6.619,11 km2 Memasuki kawasan ini, kita akan disambut oleh sebuah gapura besar dengan kupu-kupu raksasa, diikuti patung kera berukuran jumbo. Ini menandakan Bantimurung merupakan habitat asli kupu-kupu dan kera.

Photo credits – TEMPO/Ayu Ambong

Air terjun jatuh perlahan melalui batu cadas dari ketinggian 15 meter dan lebar 20 meter menyajikan nuansa alam yang khas. Selain pemandangan alam yang indah, air terjun ini juga dimanfaatkan oleh pengunjung untuk kegiatan mandi atau sekadar untuk merasakan percikan sejuk air pegunungan.

Di sekitar air terjun, terdapat cekungan-cekungan sungai yang biasa dimanfaatkan pengunjung untuk berenang. Di sebelah kiri air terjun terdapat jalan wisata dan tempat duduk permanen yang membatasi jalan dengan sungai, terusan dari air terjun. Biasanya pengunjung yang datang sekadar mengabadikan gambar panorama air terjun. Di sebelah kanan air terjun, terdapat areal yang cukup landai untuk berkumpul bersama keluarga dengan menggelar tikar sambil menikmati pemandangan. Pengunjung juga bisa duduk di bawah pepohonan rindang atau mandi di air terjun.

Photo credits – TEMPO Zulkarnain

Taman Wisata Alam Bantimurung secara umum bergelombang sampai berbukit-bukit. Batuan kapur membentuk bebukitan terjal di kanan kiri sungai. Daerah datar terletak di bagian selatan, tempat terdapatnya air terjun dan kolam. Daerah datar lainnya yang mempunyai panorama cukup menarik terletak di bagian utara taman wisata alam, dapat ditempuh melalui jalan setapak dari air terjun. Vegetasi yang terdapat di Taman Wisata Alam Bantimurung adalah tipe hutan hujan pegunungan yang didominasi oleh famili Liniaceae, antara lain; jambu hujan (Eugenia sp), jabon (Anthocepalus cadamba), pala-pala (Mangifera sp), enau (Arenga pinnata), centana (Pterocarpus indicus) dan lain-lain.

Photo credits – TEMPO Zulkarnain

Selain menikmati pesona air terjun Bantimurung, terdapat objek wisata lain di sekitar kawasan ini yakni goa mimpi dan goa batu. Goa Mimpi merupakan salah satu tempat yang digemari. Di dalam goa terdapat stalaktit (relief batu yang terbentuk dari tetesan air dan menggantung di atas langit-langit goa) indah dengan kumpulan kristal. Bening dan mampu memantulkan cahaya. Di sekelilingnya diterangi lampu sehingga memperindah suasana dalam goa. Inilah yang membuatnya disebut goa mimpi karena ketika berada di dalamnya, kita seakan-akan berada dalam mimpi.

Untuk menuju Goa Batu dibutuhkan stamina yang prima meskipun pengelola sudah membuatkan anak tangga setinggi 10 meter. Perjalanannya cukup jauh dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 20 menit. Namun setelah tiba, segala kelelahan segera terbayar dengan pemandangan indah serta air terjun kecil yang begitu asri. Belum lagi keindahan di dalam goa dengan stalaktit dan stalagmite sepanjang lorong 30 meter.

Photo credits – TEMPO Rully Kesuma

Pada 1856 – 1857, Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di Indonesia untuk meneliti berbagai jenis kupu-kupu, termasuk kupu-kupu Bantimurung. Menurut Wallace, Bantimurung merupakan The Kingdom of Butterfly karena ditemukan beragam spesies kupu-kupu langka yang jarang terdapat di daerah lain. Berbagai jenis kupu-kupu yang terdapat di kawasan tersebut antara lain dari family Saturnidae, Nocturnidae, Spingidae dan Nyphalidae. Jenis kupu-kupu tersebut menurut para ahli hanya terdapat di Taman Wisata Alam Bantimurung. Menurut Matimu (1977) dan Achmad (1998) dalam Buku Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (2006), terdapat 103 jenis kupu-kupu yang ditemukan di sana, dan sebaran kupu-kupu jenis komersil seperti Troides haliptron dan Papilio blumei adalah dua jenis endemik yang mempunyai sebaran sangat sempit, yaitu hanya pada habitat berhutan di pinggiran sungai.

Untuk menjaga kupu-kupu dari kepunahan, pemerintah setempat membuat penangkaran di lokasi ini, dan tentunya menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung. Selain penangkaran, ada juga museum kupu-kupu sebagai informasi dan pusat data kupu-kupu yang hidup di alam Bantimurung. Sebelum pulang jangan lupa untuk membeli oleh-oleh kupu-kupu indah Bantimurung yang sudah diawetkan dalam bingkai kaca dengan jumlah variatif. Oleh-oleh ini bisa dipajang di dinding rumah sebagai kenangan dan tanda bahwa Anda sudah mengunjungi “Kerajaan Kupu-Kupu” di Bantimurung.

Photo credits – TEMPO Zulkarnain

Untuk menikmati kesejukan dan keindahan Bantimurung, pengunjung cukup membayar retribusi karcis sebesar Rp 5000 untuk dewasa dan Rp 3500 bagi anak-anak. Bagi Anda yang ingin berlama-lama di sini, tersedia fasilitas penginapan dengan kisaran harga antara Rp 40 ribu sampai Rp 60 ribu plus fasilitas televisi di dalamnya.

Selamat membanting kemurungan di Bantimurung!

(by amril t. gobel)