23 Nov

Es cendol, siapa yang tidak tergiur dengan rasanya yang manis dan banyak khasiat? Minuman yang juga dikenal dengan nama dawet ini ternyata bukan lagi monopoli orang Banjarnegara, Jawa Tengah, penghasil gula sebagai bahan baku es dawet. Kini, orang Medan pun ikut menangguk keuntungan dari berjualan es dawet.

Dawet Rasa Modern

Hafizh Khairul Rijal dan istrinya, Citra, adalah orang Medan asli yang terinspirasi dari seorang mas-mas lulusan SMA yang mampu menghasilkan omset Rp 300 ribu per hari dari satu gerobak es dawet yang dimilikinya.

Gerobak es Dawet Banjarnegara yang dimiliki ternyata bukan hanya satu, melainkan 27 gerobak, walhasil, bisa dihitung berapa omset yang didulangnya dalam sehari dan sebulan?! Melihat peluang tersebut, pada tahun 2006, Hafizh dan istri mencoba bekerja sama dengan owner Es Dawet Banjarnegara dan bermodalkan Rp 500 ribu untuk gerobak dan bahan baku.

Malangnya, jualan hari pertamanya di sekitar Universitas Sumatera Utara waktu itu diguyur hujan. Namun, kejadian itu tak menghalangi Hafizh untuk terus berjualan hingga 3-4 bulan kemudian modalnya kembali. Keuntungan berjualan pun diputar lagi untuk membeli gerobak dan memperluas usahanya.

Lama-kelamaan, karena sudah lama bekerja sama, owner Es Dawet Banjarnegara menawarkan Hafizh dan istri untuk membeli ‘resep rahasia’ es dawet miliknya, termasuk gula merah khas Banjarnegara yang diekspor langsung dari daerah asalnya.

Dengan Rp50 juta, ‘resep rahasia’ itu pun sudah di tangan Hafizh dan istri, bisnis es dawet mereka pun siap lepas landas. Brand Es Dawet Cah Mbanjar sudah dilekatkan pada produk es dawet mereka. Booth atau gerobak jualan pun didesain modern, sangat berbeda dengan es dawet Banjarnegara yang tradisional.

Tahun 2008 adalah momen terpenting bagi Hafizh karena mendapat penghargaan sebagai Finalis Tingkat Nasional Wirausaha Muda Mandiri. Sejak saat itu, ide untuk mengembangkan bisnis ‘basah’ es dawetnya tak terbendung lagi. Konsep franchise pun digulirkan.

Maksimalkan Franchise

Hafizh dan Citra beruntung karena bergabung dengan komunitas Tangan Di Atas (TDA) yang menaungi ribuan wirausahawan untuk terus mengembangkan usahanya.

Lewat TDA pula, mereka dapat kemudahan dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah untuk ikut dalam pameran Franchise and License Expo 2010 yang berlangsung pada 12-14 November lalu.

Ke-220 gerai yang kini sudah dimiliki oleh mereka akan segera bertambah lagi seiring dengan antusiasme masyarakat yang ingin mencicipi bisnis es dawet.

Tak lama lagi, selain hadir di Medan, Aceh, Palu, Makassar, Palembang, hingga Jakarta, kita juga dapat menemukan Es Dawet Cah Mbanjar di beberapa kota besar lainnya karena dalam waktu dekat akan berdiri kantor perwakilan di Surabaya dan Bandung.

Dengan modal Rp8 juta, Anda pun dapat memulai usaha Es Dawet Banjarnegara sebagai bagian dari franchisee dan berhak atas booth dan perlengkapan lainnya.

Ada pula paket Rp30 juta dengan fasilitas dua booth serta bahan baku dan berhak mendapat komisi jika ada permintaan untuk menjadi mitra di daerah domisili Anda. Konsep franchise ini juga terus dikembangkan Hafizh dan Citra dengan bentuk kafe.

Tentu saja, pengembangan ini pun diikuti pula dengan brand-brand lain di bawah naungan brand Es Dawet Banjarnegara, seperti Bakso Mas Karyo dan nasi goreng. Jadi, siapa mau terjun ke bisnis ‘basah’ es dawet? (ind