Galangan Kapal VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) yang terletak di Jalan Kakap No. 1 Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara merupakan salah satu tempat wisata bersejarah di wilayah Utara Kota Jakarta. Dulunya Jakarta masih bernama Batavia ketika galangan kapal ini berdiri sekitar tiga ratus tahun lalu.
Di kawasan ini yang diberi nama Pasar Ikan menjadi pusat perdagangan utama di Asia. Bahkan ada yang menyebutkan hampir selama dua abad wilayah ini merupakan urat nadi suatu jaringan niaga, yang terentang dari Pulau Decima di Nagasaki (Japan) sampai Cape Town (Afrika Selatan) dan dari Ternate sampai Bandar Surat di pantai Teluk Arab.

Galangan Kapal VOC merupakan salah satu unsur pendukung yang amat penting bagi jaringan niaga sedunia, yang berlangsung dengan memakai kapal-kapal layar. Kapal-kapal berukuran besar dan kecil ini bongkar muat di galangan itu. Dan berlayar mengarungi lautan Pasifik, Hindia serta Atlantik dan singgah di berbagai pelabuhan antara Amsterdam dan Nagasaki, antara Hormuz (Pesia) dan Pulau Banda.

“Meskipun sudah beberapa kali mengalami pemugaran namun bangunan galangan kapal ini masih banyak yang asli dan bisa dijadikan warisan leluhur sejarah masa lalu,” ungkap Cahyadi salah seorang pengelola di galangan VOC itu kepada reporter jakartautara.com. Menurutnya, diperkirakan galangan kapal VOC ini berdiri tahun 1628 yang semula dijadikan kantor dan tempat dagang VOC. Luas areal sekarang hanya sekitar 2.000 meter persegi. Usia galangan kapal yang dibangun di atas tanah urukan ini lebih tua dari Museum Bahari. Bahkan ketika galangan kapal ini beroperasi di tempat museum bahari berdiri tadinya masih rawa-rawa dan empang.

Galangan kapal sudah berfungsi di tempat sekarang berdasarkan catatan sejarah pada tahun 1632. Namun pernah terjadi kebakaran besar tahun 1721 yang sempat merusak sebagian dari kompleks bangunan galangan ini. Sebelum mengalami pemugaran, dijelaskan Cahyadi, galangan kapal aslinya dibatasi dengan di utara oleh Jalan Pakin, di barat oleh gedung utama dan di selatan dibatasi oleh semacam gang di antara gedung kedua yang merupakan terusan dari gedung utama dan gedung baru di sebelah utara bekas Ankerwerf (bekas gudang gula, bengkel besi dan kayuy tahun 1980-1990- sempat dijadikan gudang bahan kimia, kini dalam keadaan kosong).

”Ini tadinya sungai besar yang diseberangnya ada kasteel Batavia (bangunan penting yang sudah dibongkar berdiri tahun 1618-1627) dan menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari galangan ini”ujar Cahyadi seraya menjelaskan batas timur yang tadinya sungai diurug sewaktu ciliwung diluruskan mulai dari pintu kecil sampai ke pasar ikan.

Galangan kapal VOC tadinya merupakan tempat untuk memperbaiki kapal-kapal besar yang berbulan-bulan lamanya berlayar tetapi juga untuk membuat kapal-kapal kecil. Berbagai golongan bekerja di galangan ini seperti pegawai administrasi dan pembukuan, serta pembuat peta, kompas dan jam pasir.

Mereka bekerja dan sebagian tinggal di gedung utama bersama dengan pejabat tertinggi di kompleks itu, yaklioni equipagemeester atau commandeur,. Lalu ada tukang kayu yang khusus membuat dan memperbaiki kapal serta tukang-tukang lainnya, termasuk terdapat diantaranya para budak belian. Mereka dipaksa bekerja keras, diberi makan jelek, dianiaya dan dihukum berat karena kesalahan atau masalah sepele.

Gedung galangan kapal yang berlantai dua itu kini tak lebih dari sebuah tempat bersejarah. Untuk melestarikan gedung bersejarah ini kini dikelola oleh swasta yaitu PT Sunda Kelapa Lestari dan sempat direnovasi pada tahun 1997 sampai 1999. “Sekarang ini di galangan kapal VOC terdapat restoran dan café,” ungkap Cahyadi yang memimpin restoran terdiri dari restoran China dan Indonesa dan juga terdapat café yang diberi nama café galang.

Di galangan kapal yang belakangan disewakan untuk kegiatan pesta perkawinan, pameran dan lain-lain itu terdapat galeri lukisan seta ada juga peti emas yag dsebut sebut tempat penyimpanan barang-barang berharga ukurannya 1 M X 1,2 meter. Di saat-saat libur cukup banyak pelancong dari Belanda yang sekedar untuk mengenang sejarah bangunan yang didirikan oleh leluhurnya. (rn)

Sumber : Perempuan.com