Pernah mencicipi rawon? Masakan khas Jawa Timur ini bisa disantap kapan saja, pagi hingga malam hari. DiSurabaya rawon bisa ditemui di mana saja, dari warung pinggir jalan, kantin, hingga ke hotel berbintang. Tetapi, dari sekian banyak, hanya beberapa rawon yang terkenal. Di antaranya adalah warung Rawon Setan di Jalan Embong Malang, tepat di seberang Hotel JW Marriott.

Warung rawon yang didirikan pada tahun 1953 ini dulu dikenal dengan nama Rawon Nirom karena letaknya di depan Gedung NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Maatschappij). Sekarang setelah gedung itu dirobohkan dan menjadi hotel, nama warung pun berubah menjadi Rawon Setan.

Disebut setan karena warung ini semula baru buka tengah malam, yakni pukul 23.00 dan tutup pukul 03.00. Warung ini dulu biasa melayani anak muda yang baru pulang dari go skate atau kafe di hotel–hotel di sepanjang Jalan Embong Malang. Pembeli rawon ini harus rela mengantre karena banyaknya pembeli. Mobil–mobil yang akan parkir juga agak mengalami kesulitan karena sempitnya lahan.

Nama Rawon Setan menjadi akrab di telinga setelah Piyu, gitaris grup Padi, yang lahir dan besar di Surabaya,mengaku selalu menyantap rawon itu setiap kali pulang kampung. Pada sekitar tahun 1950 pemilik warung itu adalah Mbah Musi yang dibantu cucunya, Endang. Sekarang, peminat Rawon Setan bisa mencicipi rawon itu tanpa perlu menunggu hingga tengah malam. Warung itu sekarang buka sejak pukul 18.00 dan tutup keesokan paginya pukul 09.00. Jadi, boleh dibilang nama Rawon Setan ini sudah bukan setan lagi karena tidak cocok dengan jam bukanya.

Selain itu, walau di depan warung ditulis tidak membuka cabang di tempat lain,
ternyata masakan ini juga bisa dicicipi di beberapa tempat. Warung–warung di
berbagai tempat di Surabayaitu memakai resep sama yang berasal dari Mbah Musi, pendiri Warung Setan didepan Gedung NIROM.

 

Sepi pengamen


Salah satu rawon yang memakai nama rawon setan ada di Jalan Jemur Sari dan
Rawon Mbak Endang, yang dulu ikut membesarkan Rawon Setan. Rawon Mbak Endang memiliki empat cabang, yakni di Jalan Genteng Kali, Jalan HR Muhammad, Jalan Simpang Dukuh, dan di depan GOR Sidoarjo. Semua pemilik rawon itu masih keturunan Mbah Musi. Bahkan, rawon setan di depan Hotel JW Marriott dikelola oleh tiga orang keturunan Mbah Musi yang saling bergantian setiap dua hari.

Warung Rawon Mbak Endang di Jalan Simpang Dukuh berupa tenda, terletak di jalan umum yang kalau siang menjadi lahan parkir Andhika Plaza. Saat berbuka puasa, suasana di warung itu cukup ramai walau tidak ada antreanorang, seperti dulu Warung Rawon Setan.

Yang menyenangkan, di warung ini para konsumen tidak terganggu oleh pengamen. Menurut Endang Martiningsih (35), pemilik warung itu, dirinya memang melarang pengamen masuk ke warung. “Tentu tidak menyenangkan
sedang asyik makan, lalu harus merogoh tas untuk mengambil uang. Apalagi kalau tangannya sedang berminyak karena memegang makanan,” kata Endang.

Bumbu keluweknya sangat terasa dan membuat kuah rawon agak kental. Menurut Endang, dia memang agak banyak memberikan keluwek. Setiap dua hari dia menghabiskan 50 kilogram keluwek untuk memasok empat warung miliknya. Dia juga memakai empon–empon atau bumbu dapur, seperti serai, daun jeruk,daun salam, jahe, dan lengkuas.

Sementara itu, di Warung Rawon Setan di Jalan Embong Malang suasana sangat ramai. Rawon Setan tidak lagi memakai tenda, tetapi memakai bangunan tua semacam ruko. Mobil yang parkir di pinggir Jalan Embong Malang cukup padat. Berbeda dengan Warung Mbak Endang, di Warung Rawon Setan suasana tampak lebih hiruk–pikuk. Mungkin karena tempatnya yang sempit dan letaknya di pinggir jalan raya yang ramai.

Ada kejadian aneh ketika memesan rawon di tempat ini untuk dibawa pulang. Ternyata isi kedua kantong rawon itu sangat berbeda. Yang pertama sangat berminyak, sedangkan yang kedua hanya sedikit minyak. Rasanya pun jadi berbeda. Jika dibandingkan dengan rawon Mbak Endang, rawon setan tidak terlalu kental penggunaan keluweknya. Untuk daging, kedua warung ini memberikan potongan yang besar–besar. Marem, kata orang Jawa.