Archive for September, 2010

Pandangan Islam Tentang Merayakan Hari Valentine

heart

Pertanyaan:

Ulama yang terhormat, assalamu`alaikum

Terima kasih banyak atas layanan hebat yang anda berikan dan usaha yang telah anda lakukan. Bisakah anda memberitahukan saya pandangan Islam tentang Hari Valentine?

Jawaban:

Wa `alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Segala puji hanya bagi Allah Swt. dan shalawat serta salam semoga tercurahkan bagi Nabi Muhammad Saw.

Memang Islam adalah agama altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain), cinta sejati, kerjasama yang baik dan benar. Kita mohon kepada Allah Swt. agar mengumpulkan kita bersama-sama dalam payung naungan dan ampunan-Nya dan menyatukan kita bersama laksana satu tubuh. Allah Swt. berfirman: (Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.) (Al-Hujurat 49: 10)

Fokus kepada pertanyaan yang diajukan, saya dapat mengatakan bahwa ada beberapa pengungkapan cinta yang secara ajaran agama dapat diterima, sementara itu ada juga yang tidak diterima. Salah satu bentuk cinta yang dapat diterima salah satunya adalah cinta kepada Rasulullah Saw. Itulah yang menjadi sebab mengapa cinta kepada Allah Swt. dan kepada Rasul-Nya harus menjadi prioritas utama atas segala bentuk cinta yang lain.

Islam memang mengenal perayaan yang dapat mendekatkan satu orang dan lainnya, sekaligus menambah variasi dalam kehidupannya. Namun, Islam menentang penyerupaan buta budaya Barat terkait perayaan-perayaan khusus seperti Hari Valentine. Dengan kata lain, merayakan hari spesial seperti Hari Valentine merupakan inovasi atau bid’ah yang tidak memiliki dukungan dari ajaran agama. Setiap bid’ah seperti itu hukumnya haram, begitu menurut Islam. Islam menyuruh seluruh umat Muslim untuk menyayangi satu sama lain sepanjang tahun, dan menguranginya hanya dalam sehari benar-benar tertolak.

Dengan demikian, kita sebagai Muslim, tidak seharusnya mengikuti jejak inovasi seperti itu dan takhayul yang sering kita dengar pada perayaan Hari Valentine. Tidak diragukan lagi banyak praktek-praktek yang tidak sesuai ajaran agama yang terjadi pada hari itu, dan praktek-praktek seperti itu dapat menghalangi masyarakat dari makna cinta sejati dan altruisme yang dampak lebih luasnya dapat terjadi penurunan nilai-nilai moral di masyarakat.

Sumber: www.islamonline.net

Iklan

Apa Hukumnya Menjadikan Ayat-ayat Qur’an atau Adzan Sebagai Ringtone?

fiqh1

Pertanyaan:

Ulama yang terhormat, assalamu’alaikum.

Sekarang ini banyak kita temui orang-orang menjadikan ayat-ayat Qur’an, doa atau Adzan sebagai ringtone untuk ponsel. Apa hukumnya?

Jazakumullah khairan.

Answer:

Wa `alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Segala puji hanya bagi Allah Swt. dan shalawat serta salam semoga tercurah bagi Nabi Muhammad Saw.

Dr. Ali Jum`ah, mufti agung Mesir saat ini, menjelaskan,

Menjadikan ayat-ayat Qur’an dan Adzan sebagai ringtone untuk ponsel tidak diperbolehkan, karena firman Allah Swt. adalah suci dan tidak boleh digunakan untuk sesuatu hal yang melenceng dari koridor Syariah. Hal ini tidak tepat dan bahkan tidak bermoral ketika seseorang menggunakan Qur’an yang mulia sebagai nada dering ponsel, karena Qur’an itu suci dan agung dan dengan menggunakannya sebagai ringtone maka menghilangkan keagungan dan kesuciannya itu. Allah Swt. berfirman, (Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.) (Al-Hajj 22:32).

Dengan menggunakan ayat-ayat Qur’an atau Adzan sebagai ringtone, merupakan pencerminan penyalahgunaan ayat-ayat Qur’an, yang diturunkan oleh Allah Swt. kepada manusia agar mereka menyembah-Nya melalui membaca, menghafal dan merenunginya dan tidak menggunakannya untuk suatu hal yang dapat menurunkan keagungan atau kesuciannya dan keluar dari koridor Syariah. Lebih jauh lagi, kita ditahbiskan untuk merenungi ayat-ayat Qur’an dan memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Penggunaan ayat Qur’an seperti dalam pertanyaan di atas dapat menggiring keluar dari konteks Syariah karena orang tersebut menggunakannya untuk mengingatkan bahwa ada panggilan telepon. Jadinya, perhatian seseorang guna merenungi ayat-ayat Qur’an akan terganggu karena harus menjawab panggilan. Dan juga hal tersebut akan menimbulkan pemutusan telepon yang mendadak yang menyebabkan terpotongnya makna dari ayat Qur’an — dan bahkan kadang-kadang bisa terjadi makna yang terbalik — saat kita menghentikan panggilan ringtone guna menjawab panggilan.

Hal yang sama juga berlaku bagi Adzan; tidak tepat menggunakannya sebagai sebuah ringtone, karena Adzan merupakan panggilan masuknya waktu Shalat. Jadi menggunakannya sebagai ringtone dapat membuat orang bingung dan salah tanggap dengan mengira bahwa telah datang waktu Shalat. Juga melibatkan penggunaan Adzan dalam suatu hal selain itu seperti disyariatkan.

Menurut pendapat saya, nyanyian Islam atau puji-pujian yang mengutip dari hadits Rasulullah Saw. dapat digunakan sebagai ringtone, karena durasinya yang pendek mungkin cocok jika digunakan sebagai nada dering ponsel. Sedangkan untuk firman-firman Allah Swt., mereka itu suci sehingga harus diperlakukan dengan cara yang tepat. Al-Quranul Karim merupakan Kalam Ilahi yang Allah Swt,. turunkan kepada Rasul-Nya, makhluk termulia, junjungan kita Nabi Muhammad Saw.

Kita diperintahkan untuk menghormati, memuliakan dan memperlakukan Al-Qur’an dengan tepat yang cara perlakuannya berbeda dengan hal-hal lainnya. Itulah sebabnya seseorang tidak boleh menyentuh Mushaf ketika dia sedang berhadats kecil atau besar. Allah Swt. berfirman, (Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.) (Al-Waqi`ah, 96:77–79). Ketinggian firman-firman Allah dibanding kata-kata yang lain adalah seperti ketinggian Allah Swt. atas segala makhluk-Nya.

Sumber: Islamonline.net

Jika Orang Tua Kita Salah Dan Kita Benar, Apa Yang Harus Kita Lakukan?

muslimfamily

Pertanyaan:

Jika orang tua kita salah dan kita benar, apa yang harus kita lakukan?

Jawaban:

Jika kita yakin bahwa kita memang benar dan orang tua kita salah, maka kita perlu menjelaskan kepada mereka bahwa mereka salah, tapi lakukan itu dengan santun.

Fakta bahwa orang tua kita salah, bukan berarti memberikan kita hak untuk bersikap kasar dan arogan kepada mereka. Ingat bahwa Allah memerintahkan para Nabi-Nya, Musa dan Harun, untuk berbicara kepada Fir’aun dengan penuh kelembutan–padahal Fir’aun adalah seorang penguasa yang tiran. “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (Qur’an: 20: 43-44)

Dan mengenai kewajiban anak terhadap orang tua, Allah berfirman, ” Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Qur’an: 17: 23).

Sumber: Askthescholar.com

Apakah Boleh Menggunakan Parfum Beralkohol di Pakaian?

halalharam

Pertanyaan:

Apakah boleh menggunakan parfum beralkohol seperti hugo boss dan yang lainnya di pakaian. Saya suka menggunakannya tapi semenjak tahu itu tidak diperolehkan maka saya berhenti menggunakannya. Saya tidak membicarakan soal attar, yang saya bicarakan adalah parfum beralkhohol.

Jawaban:

Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama tentang penggunaan parfum yang mengandung alkohol. Pendapat paling umum adalah hal tersebut tidak berbeda dengan penggunaan alkohol atau lainnya yang memabukkan. Namun sejumlah ulama-ulama modern menanggapi masalah ini dengan berbeda: mereka berpendapat penggunaan parfum beralkohol hukumnya boleh dengan beberapa alasan:

1) Kandungan alkohol di parfum seperti itu kecil sekali; dan yang seperti itu, diperbolehkan; ini berbeda dengan khamar (yang haram hukumnya) yang semata-mata dibuat agar memabukkan. Kandungan alkohol dalam parfum terjadi akibat perubahan kimiawi; dan yang seperti itu sama dengan kandungan alkohol yang ditemukan pada beragam makanan yang difermentasi; dan tidak ada yang mengharamkan makanan seperti itu. Perlu juga diketahui beberapa ulama mazhab berpandangan bolehnya nabidh. Nabidh adalah minuman berfermentasi yang tidak terlepas dari zat alkohol; pembeda antara khamar dan nabidh adalah kadar fermentasi dan sejauh mana dapat mengakibatkan mabuk pada penggunanya.

2) Parfum-parfum tersebut digunakan hanya ketika di luar saja; kebanyakannya akan menguap saat bersentuhan dengan udara.

Oleh sebab itu tidak perlu terlalu kaku dalam masalah ini. Jika ada seseorang yang tetap ingin mengikutin pendapat bahwa parfum di alkohol itu haram, maka yang terbaik adalah menghindarinya. Namun dia tidak boleh memaksakan pandangannya kepada mereka yang menggunakan parfum beralkohol.

Perlu saya tambahkan dan tekankan: fleksibilitas tentang parfum beralkohol ini tidak dapat diperluas untuk masakan yang dimasak menggunakan anggur atau alkohol. Anggur atau alkohol di dalam masakan hukumnya tetap tidak diperbolehkan dan itu adalah masalah yang berbeda.

Sumber: Askthescholar.com

Apa makna kata Allah di dalam Al-Qur’an?

Allah

Pertanyaan:

Apa makna dari kata Allah yang ada di dalam Al-Qur’an?

Jawaban:

Allah adalah nama Tuhan yang unik dalam Islam. Kata Allah dalam bahasa Arab artinya Tuhan Yang Maha Esa, atau hanya Dia yang patut disembuh. Allah menggambarkan tentang Dirinya dengan banyak nama dan atribut di dalam Al-Qur’an; diantaranya adalah: Maha Esa, Maha Kekal, Maha Pemurah dan Penyayang, dll.

Allah Swt. berfirman, “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Qur’an: 7: 180).

Ketika orang-orang pagan bertanya kepada Rasulullah meminta untuk digambarkan tentang Tuhannya Rasulullah, Allah kemudian mewahyukan surat Al-Ikhlas, yang berisikan keyakinan inti dari agama Islam yaitu tiada tuhan selain Allah, Allah yang Maha Esa. “Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.” (Qur’an: 11: 1-4).

Sumber: Askthescholar.com

10 Top Mitos Tentang Islam

Islam sebagai agama seringkali disalahpahami. Bagi mereka yang tidak familiar dengan Islam sering salah paham tentang ajaran Islam dan pengamalannya. Beberapa salah pengertian itu antara lain katanya umat Islam menyembah Tuhan bulan, katanya Islam menindas kaum wanita atau Islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan. Dibawah ini terdapat 10 top mitos tentang Islam dan penjelasan yang benar tentang agama Islam.

1. Orang Islam menyembah Tuhan bulan

Beberapa orang non-Muslim sering salah mempercayai bahwa Allah itu adalah “Tuhannya orang Arab,” “Tuhan bulan,” atau semacam dewa. Allah adalah nama dari Tuhan yang Maha Esa dalam bahasa Arab. Keyakinan dasar dari tiap orang Islam adalah “Tiada Tuhan selain Allah,” Maha Pencipta dan Maha Berdiri Sendiri
— dikenal dalam bahasa Arab dan oleh umat Islam sebagai Allah.
Umat Kristen di daerah Arab pun menggunakan kata yang sama untuk menyebut nama Tuhan.

2. Orang Islam tidak percaya akan Yesus

Dalam Al-Qur’an, cerita tentang kehidupan dan ajaran yang dibawa oleh Yesus Kristus (disebut dengan Isa dalam bahasa Arab) banyak sekali. Al-Qur’an mengingatkan kembali tentang mukjizat kelahirannya, tentang ajaran yang dibawanya dan tentang mukjizat lainnya yang ia lakukan atas seizin Allah. Bahkan dalam Al-Qur’an ada sebuah surat yang dinamakan dengan nama ibunya, Mary (Miriam/Maryam dalam bahasa Arab). Namun untuk umat Islam Yesus adalah seorang manusia biasa yang diangkat menjadi Nabi dan tidak mungkin menjadi Tuhan.

3. Sebagian besar orang Islam di dunia ini adalah orang Arab

Islam sering diasosiasikan dengan bangsa Arab, padahal bangsa Arab hanya berjumlah 15% dari total populasi Muslim dunia. Negara dengan populasi Muslim terbesar adalah Indonesia. Umat Islam berjumlah 1/5 dari populasi penduduk dunia, dengan komposisi di Asia (69%), Afrika (27%), Eropa (3%) dan sisanya di belahan dunia lainnya.

4. Islam menindas kaum wanita

Sebagian besar perlakuan tidak baik yang diterima oleh kaum wanita di dunia Islam adalah akibat dari budaya dan tradisi lokal tanpa ada sangkut pautnya dengan ajaran Islam. Faktanya, praktik seperti kawin paksa, pelecehan seksual dan membatasi pergerakan wanita itu secara langsung bertentangan dengan hukum Islam tentang bagaimana membina keluarga yang Islami dan kebebasan individu.

5. Orang Islam itu suka melakukan kekerasan, teroris

Terorisme tidak dibenarkan dalam Islam. Seluruh isi Al-Qur’an, jika dibaca secara lengkap (tidak sepotong-sepotong), memberikan pesan yang berisi harapan, keyakinan dan kedamaian bagi satu milyar pengikutnya. Pesan yang banyak kita dapatkan dalam Al-Qur’an itu bahwa kedamaian dapat ditemukan dengan kita yakin kepada-Nya dan berbuat adil kepada sesama manusia. Para pemimpin umat Islam dan para ulama banyak berbicara agar umat Islam melawan segala bentuk terorisme dan memberi penjelasan tentang kesalahpahaman atau pemutarbalikkan fakta yang terjadi.

6. Islam tidak toleransi terhadap pengikut agama lain

Melalui Al-Qur’an umat Islam diingatkan bahwa mereka bukan satu-satunya umat penyembah Tuhan. Kaum Yahudi dan Kristen  dalam Al-Qur’an disebut dengan “Ahli Kitab,” yang berarti orang yang sebelumnya telah menerima wahyu dari Allah SWT — Tuhan yang kita sembah. Al-Qur’an pun memerintahkan kepada umat Islam untuk tidak merusak tempat ibadah tidak hanya masjid namun juga biara, sinagoga dan gereja.

7. Islam mengajak pengikutnya untuk “Jihad” dalam menyebarkan Islam dengan menggunakan pedang dan membunuh semua yang tidak mau mengikutinya

Kata Jihad berasal dari bahasa Arab yang bermakna “berjuang.” Makna lainnya termasuk “berusaha,” “bekerja,” dan “berupaya.” Pada dasarnya Jihad adalah usaha untuk mempertahankan agama ketika menghadapi penindasan dan penganiayaan. Bentuk usaha  tersebut bisa dengan memerangi setan dalam hati kita atau menentang pemimpin yang diktator. Berusaha dengan menggunakan senjata juga termasuk dalam Jihad namun itu menjadi pilihan terakhir dan “tidak menggunakan pedang dalam menyebarkan Islam.”

8. Al-Quran ditulis oleh Nabi Muhammad SAW dan disalin dengan sumber orang Yahudi dan Kristen

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW selama lebih dari dua dekade, memerintahkan manusia untuk menyembah Tuhan yang Maha Esa dan menjalani hidup sesuai dengan tuntunan-Nya. Al-Qur’an berisi cerita Nabi-Nabi seperti dalam Injil karena para Nabi dalam kitab Injil itu pun mengajarkan wahyu Tuhan.
Cerita-cerita yang ada bukan hasil salinan dari orang Yahudi atau Kristen namun memang ada tradisi yang berkembang di mereka yang kita dapat pelajari.

9. Shalat dalam Islam hanya sekedar ritual belaka tanpa dilakukan dengan sepenuh hati

Shalat adalah saat dimana kita berdiri menghadap Tuhan dan mengungkapkan keyakinan, bentuk rasa syukur atas segala nikmat-Nya dan memohon petunjuk serta meminta ampunan. Selama shalat, seseorang menjadi rendah hati, tunduk dan hormat pada Tuhannya. Dengan kita membungkuk dan sujud ke tanah/bumi, kita ungkapkan kerendahan diri kita di hadapan-Nya.

10. Bulan sabit adalah simbol universal Islam

Umat Islam di masa awal tidak pernah memiliki simbol. Di zaman Nabi Muhammad SAW, kafilah-kafilah dan tentara-tentara Islam menggunakan bendera berwarna yang sederhana (biasanya berwarna hitam, hijau atau putih) agar mudah dikenali. Simbol bulan sabit dan bintang digunakan setelah beratus-ratus tahun kemudian dan itu tidak ada kaitannya dengan Islam sama sekali sampai digunakan oleh Kesultanan Ottoman pada bendera mereka.

Sumber : About.com

Syekh Maulana Malik Ibrahim

Senja hampir bergulir di Desa Gapuro, Gresik, Jawa Timur, menjelang bulan Ramadhan itu. Tak ada angin. Awan seperti berhenti berarak. Batu pualam berukir kaligrafi indah itu terpacak bagaikan saksi sejarah. Itulah nisan makam almarhum Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang wafat pada 12 Rabiul Awal 822 Hijriah, atau 8 April 1419.

Di latar nisan itu tersurat ayat suci Al-Quran: surat Ali Imran 185, Ar-Rahman 26-27, At-Taubah 21-22, dan Ayat Kursi. Ada juga rangkaian kata pujian dalam bahasa Arab bagi Malik Ibrahim: ”Ia guru yang dibanggakan para pejabat, tempat para sultan dan menteri meminta nasihat. Orang yang santun dan murah hati terhadap fakir miskin. Orang yang berbahagia karena mati syahid, tersanjung dalam bidang pemerintahan dan agama.”

Demikian terjemahan bebas inskripsi di nisan pualam makam berbangun lengkung menyerupai kubah itu. Dalam beberapa sumber sejarah tradisional, Syekh Maulana Malik Ibrahim disebut sebagai anggota Wali Songo, tokoh sentral penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Sejarawan G.W.J. Drewes menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama dipandang sebagai wali di antara para wali.

”Ia seorang mubalig paling awal,” tulis Drewes dalam bukunya, New Light on the Coming of Islam in Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana, yang melekat di depan nama Malik Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein Djajadiningrat, membuktikan bahwa ia ulama besar. Gelar tersebut hanya diperuntukkan bagi tokoh muslim yang punya derajat tinggi.

Sekalipun Malik Ibrahim tidak termasuk dalam jajaran Wali Songo, masih menurut Hoessein, jelas dia adalah seorang wali. Adapun istilah Wali Songo berasal dari kata ”wali” dan ”songo”. Kata wali berasal dari bahasa Arab, waliyullah, orang yang dicintai Allah –alias kekasih Tuhan. Kata songo berasal dari bahasa Jawa, yang berarti sembilan.

Ada wali yang termasuk anggota Wali Songo –yang terdiri dari sembilan orang– dan ada wali yang bukan anggota ”dewan” Wali Songo. Konsep ”dewan wali” berjumlah sembilan ini diduga diadopsi dari paham Hindu-Jawa yang berkembang sebelum masuknya Islam. Wali Songo seakan-akan dianalogikan dengan sembilan dewa yang bertahta di sembilan penjuru mata angin.

Dewa Kuwera bertahta di utara, Isana di timur laut. Indra di timur, Agni di tenggara, dan Kama di selatan. Dewa Surya berkedudukan di barat daya, Yama di barat, Bayu, atawa Nayu, di barat laut, dan Siwa di tengah. Para wali diakui sebagai manusia yang dekat dengan Tuhan. Mereka ulama besar yang menyemaikan benih Islam di Jawadwipa.

Figur para wali –sebagaimana dikisahkan dalam babad dan ”kepustakaan” tutur– selalu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang dahsyat. Namun, hingga sekarang, belum tercapai ”kesepakatan” tetang siapa saja gerangan Wali nan Sembilan itu. Terdapat beragam-ragam pendapat, masing-masing dengan alasannya sendiri.

Pada umumnya orang berpendapat, yang terhisab ke dalam Wali Songo adalah: Syekh Maulana Malik Ibrahim alias Sunan Gresik, Raden Rakhmad alias Sunan Ampel, Raden Paku alias Sunan Giri, Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, Raden Maulana Makdum Ibrahim alias Sunan Bonang, Syarifuddin alias Sunan Drajat, Jafar Sodiq alias Sunan Kudus, Raden Syahid alias Sunan Kalijaga, dan Raden Umar Sayid alias Sunan Muria.

Namun, komposisi Wali nan Sembilan ini juga punya banyak versi. Prof. Soekmono dalam bukunya, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid III, tidak memasukkan Syekh Maulana Malik Ibrahim dalam jajaran Wali Songo. Guru besar sejarah kebudayaan Universitas Indonesia itu justru menempatkan Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang, sebagai anggota Wali Songo.

Sayang, Soekmono tak menyodorkan argumentasi mengapa Maulana Malik Ibrahim tidak termasuk Wali Songo. Ia hanya menyebut Syekh Siti Jenar sebagai tokoh sangat populer. Siti Jenar dihukum mati oleh Wali Songo, karena dinilai menyebarkan ajaran sesat tentang jubuhing kawulo Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhannya), yang dapat mengguncang iman orang dan menggoyahkan syariat Islam.

Selain itu, Wali Songo juga ditafsirkan sebagai sebuah lembaga, atau dewan dakwah. Istilah sembilan dirujukkan dengan sembilan fungsi koordinatif dalam lembaga dakwah itu. Teori ini diuraikan dalam buku Kisah Wali Songo; Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa karya Asnan Wahyudi dan Abu Khalid.

Kedua penulis itu merujuk pada kitab Kanz Al-’ulum karya Ibn Bathuthah. Mereka menjelaskan, sebagai lembaga dewan dakwah, Wali Songo paling tidak mengalami lima kali pergantian anggota. Pada periode awal, anggotanya terdiri dari Maulana Malik Ibrahim, Ishaq, Ahmad Jumad Al-Kubra, Muhammad Al-Magribi, Malik Israil, Muhammad Al-Akbar, Maulana Hasanuddin, Aliyuddin, dan Syekh Subakir.

Pada periode kedua, Raden Rakhmad (Sunan Ampel), Sunan Kudus, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), dan Sunan Bonang masuk menggantikan Maulana Malik Ibrahim, Malik Israil, Ali Akbar, dan Maulana Hasanuddin –yang wafat. Pada periode ketiga, masuk Sunan Giri, menggantikan Ishaq yang pindah ke Pasai, Aceh, dan Sunan Kalijaga menggantikan Syekh Subakir yang pulang ke Persia.

Pada periode keempat, Raden Patah dan Fatullah Khan masuk jajaran Wali Songo. Kedua tokoh ini menggantikan Ahmad Jumad Al-Kubra dan Muhammad Al-Magribi yang wafat. Sunan Muria menduduki lembaga Wali Songo dalam periode terakhir. Ia menggantikan Raden Patah, yang naik tahta sebagai Raja Demak Bintoro yang pertama.

Analisis tersebut secara kronologis mengandung banyak kelemahan. Contohnya Sunan Ampel, yang diperkirakan wafat pada 1445. Dalam versi ini disebutkan, seolah-olah Sunan Ampel masih hidup sezaman dengan Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria. Padahal, Sunan Kudus hidup pada 1540-an.

Adapun Sunan Bonang dan Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel. Sunan Bonang merupakan guru Sunan Kalijaga, yang berputra Sunan Muria. Bagaimana mungkin Sunan Ampel hidup sezaman dengan Sunan Muria? Lagi pula, tokoh Wali Songo yang disebut dalam buku ini –Aliyuddin, Ali Akbar, dan Fatullah Khan– bukan wali terkenal di Jawa.

Nama mereka jarang ditemukan dalam historiografi tradisional, baik berupa serat maupun babad. Padahal, di Jawa terdapat puluhan naskah kuno berupa babad, hikayat, dan serat, yang mengisahkan para wali. Sebagian besar babad juga menggambarkan, Wali Songo hidup dalam kurun waktu yang bersamaan.

Para wali, menurut versi babad, dikisahkan sering mengadakan pertemuan di Masjid Demak dan Masjid ”Sang Cipta Rasa” (Cirebon). Di sana mereka membicarakan berbagai persoalan keagamanan dan kenegaraan. Kisah semacam ini, antara lain, dapat dibaca di Babad Demak, Babad Cirebon, dan Babad Tanah Jawi.

Babad Cirebon, misalnya, mewartakan bahwa pada 1426, para wali berkumpul di Gunung Ciremai. Mereka mengadakan musyawarah yang dipimpin Sunan Ampel, membentuk ”Dewan Wali Songo”. Sunan Gunung Jati ditunjuk selaku wali katib, atau imam para wali. Anggotanya terdiri dari Sunan Ampel, Syekh Maulana Magribi, Sunan Bonang, Sunan Ngudung alias Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Syekh Lemah Abang, Syekh Betong, dan Sunan Majagung.

Ditambah dengan Sunan Gunung Jati, jumlah wali itu malah menjadi 10 orang. Nama-nama Wali Songo yang tertulis di Babad Cirebon tersebut berbeda dengan yang tersurat di Babad Tanah Jawi. Dalam Babad Tanah Jawi, yang berasal dari Jawa Tengah, tidak ditemukan nama Syekh Betong dan Syekh Majagung. Sebagai gantinya, akan dijumpai nama Sunan Giri dan Sunan Drajat.

Tapi, peran Wali Songo jelaslah tak sebatas di bidang keagamaan. Mereka juga bertindak selaku anggota dewan penasihat bagi raja. Bahkan, Sunan Giri membentuk dinasti keagamaan, dan secara politis berkuasa di wilayah Gresik, Tuban, dan sekitarnya. Ia mengesahkan penobatan Joko Tingkir sebagai Raja Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya, setelah kekuasaan Raja Demak surut.

Di luar Wali Songo, ada puluhan tokoh penyebar agama Islam di Jawa yang juga dianggap sebagai wali. Hanya, biasanya mereka berkuasa di kawasan tak seberapa luas. Sunan Tembayat, misalnya, dikenal sebagai pedakwah di Tembayat, sebuah wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ia dilegendakan sebagai murid Sunan Kalijaga.

Sunan Tembayat adalah Adipati Semarang yang termasyhur dengan nama Ki Ageng Pandanarang. Berdasarkan cerita babad yang dikutip H.J. De Graaf dan T.H. Pigeuad, Pandanaran meninggalkan singgasananya lantaran gandrung akan ajaran Islam yang disampaikan Sunan Kalijaga. Pada 1512, Pandanarang menyerahkan tampuk pemerintahan kepada adik laki-lakinya.

”Ia bersama istrinya mengundurkan diri dari dunia ramai,” tulis De Graaf dan Pigeaud dalam buku Kerajaan Islam Pertama di Jawa. ”Pasangan bangsawan Jawa ini berkelana mencari ketenangan batin, sembari berdakwah,” kedua pakar sejarah dari Universitas Leiden, Negeri Belanda, itu menambahkan.

Usai bertualang, Pandanarang dan istrinya bekerja pada seorang wanita pedagang beras di Wedi, Klaten. Akhirnya ia menetap di Tembayat sebagai guru mengaji. Di sana selama 25 tahun, Pandanarang hidup sebagai orang suci dengan sebutan Sunan Tembayat. Ia wafat pada 1537 dan dimakamkan di situ. Bangunan kompleks makam Sunan Tembayat terbuat dari batu berukir, menyerupai bentuk Candi Bentar di Jawa Timur dan pura di Bali.

Pada prasasti makam Sunan Tembayat tertulis, makam ini pertama kali dipugar pada 1566 oleh Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya. ”Kemudian, pada 1633, Sultan Agung dari Mataram memperluas dan memperindah bangunan makam Tembayat,” tulis De Graaf. Cerita tutur tentang kesaktian orang suci dari Semarang yang dimakamkan di Tembayat ini, menurut De Graaf, sudah beredar luas di kalangan masyarakat Jawa sejak pertengahan abad ke-17.

Kisah ini ternukil di naskah klasik karya Panembahan Kajoran dari Yogyakarta, yang ditulis pada 1677. Naskah tersebut pertama kali diteliti oleh D.A. Rinkes pada 1909. Dan kini, bukti sejarah itu tersimpan di Museum Leiden, Negeri Belanda. ”Dengan begitu, legenda itu punya inti kebenaran,” tulis De Graaf, yang dijuluki ”Bapak Sejarah Jawa”.

Selain Sunan Tembayat –menurut versi Babad Tanah Jawi– Sunan Kalijaga juga punya murid lain, Sunan Geseng namanya. Nama asli petani penyadap nira ini adalah Ki Cokrojoyo. Alkisah, dalam pengembaraannya, Sunan Kalijaga terpikat suara merdu Ki Crokro yang bernyanyi setelah menyadap nira.

Kalijaga meminta Ki Cokro mengganti syair lagunya dengan zikir kepada Allah. Ketika Ki Cokro berzikir, mendadak gula yang ia buat dari nira itu berubah jadi emas. Petani ini heran bukan kepalang. Ia ingin berguru kepada Sunan Kalijaga. Untuk menguji keteguhan hati calon muridnya, Sunan Kalijaga menyuruh ki Cokro berzikir tanpa berhenti, sebelum ia datang lagi.

Setahun kemudian, Sunan Kalijaga teringat Ki Cokro. Sang aulia memerintahkan murid-muridnya mencari Ki Cokro, yang berzikir di tengah hutan. Mereka kesulitan menemukannya, karena tempat berzikir ki Cokro telah berubah menjadi padang ilalang dan semak belukar. Syahdan, setelah murid-murid Sunan Kalijaga membakar padang ilalang, tampaklah Ki Cokro sujud ke kiblat.

Tubuhnya hangus, alias geseng, dimakan api. Tapi, penyadap nira ini masih bugar, mulutnya berzikir komat-kamit. Sunan Kalijaga membangunkannya dan memberinya nama Sunan Geseng. Ia menyebarkan agama Islam di Desa Jatinom, sekitar 10 kilometer dari kota Klaten arah ke utara. Penduduk Jatinom mengenal Sunan Geseng dengan sebutan Ki Ageng Gribik.

Julukan itu berangkat dari pilihan Sunan Geseng untuk tinggal di rumah beratap gribik –anyaman daun nyiur. Menurut legenda setempat, ketika Ki Ageng Gribik pulang dari menunaikan ibadah haji, ia melihat penduduk Jatinom kelaparan. Ia membawa sepotong kue apem, dibagikan kepada ratusan orang yang kelaparan. Semuanya kebagian.

Kia Ageng Gribik meminta warga yang kelaparan makan secuil kue apem seraya mengucapkan zikir: Ya-Qowiyyu (Allah Mahakuat). Mereka pun kenyang dan sehat. Sampai kini, masyarakat Jatinom menghidupkan legenda Ki Ageng Gribik itu dengan menyelenggarakan upacara ”Ya-Qowiyyu” pada setiap bulan Syafar.

Warga membikin kue apem, lalu disetorkan ke masjid. Apem yang terkumpul jumlahnya mencapai ratusan ribu. Kalau ditotal, beratnya sekitar 40 ton. Puncak upacara berlangsung usai salat Jumat. Dari menara masjid, kue apem disebarkan para santri sambil berzikir, Ya-Qowiyyu…. Ribuan orang yang menghadiri upacara memperebutkan apem ”gotong royong” itu.

Kisah Ki Ageng Gribik hanyalah satu dari sekian banyak mitos tentang para wali. Legenda keagamaan yang ditulis babad, menurut De Graaf, sedikit nilai kebenarannya. Hanya yang mengenai wali-wali terkemuka, katanya, ada kepastian sejarah yang cukup kuat. Makam mereka masih tetap merupakan tempat yang sangat dihormati. Pada kurun abad ke-16 hingga abad ke-17, keturunan para wali juga memegang peranan penting dalam sejarah politik Jawa.

Selama 40 hari, Raden Paku bertafakur di sebuah gua. Ia bersimpuh, meminta petunjuk Allah SWT, ingin mendirikan pesantren. Di tengah hening malam, pesan ayahnya, Syekh Maulana Ishak, kembali terngiang: ”Kelak, bila tiba masanya, dirikanlah pesantren di Gresik.” Pesan yang tak terlalu sulit, sebetulnya.

Tapi, ia diminta mencari tanah yang sama persis dengan tanah dalam sebuah bungkusan ini. Selesai bertafakur, Raden Paku berangkat mengembara. Di sebuah perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas, ia kemudian mendirikan Pesantren Giri. Sejak itu pula Raden Paku dikenal sebagai Sunan Giri. Dalam bahasa Sansekerta, ”giri” berarti gunung.

Namun, tak ada peninggalan yang menunjukkan kebesaran Pesantren Giri –yang berkembang menjadi Kerajaan Giri Kedaton. Tak ada juga bekas-bekas istana. Kini, di daerah perbukitan itu hanya terlihat situs Kedaton, sekitar satu kilometer dari makam Sunan Giri. Di situs itu berdiri sebuah langgar berukuran 6 x 5 meter.

Di sanalah, konon, sempat berdiri sebuah masjid, tempat Sunan Giri mengajarkan agama Islam. Ada juga bekas tempat wudu berupa kolam berukuran 1 x 1 meter. Tempat ini tampak lengang pengunjung. ”Memang banyak orang yang tidak tahu situs ini,” kata Muhammad Hasan, Sekretaris Yayasan Makam Sunan Giri, kepada GATRA.

Syahdan, Pesantren Giri terkenal ke seluruh penjuru Jawa, bahkan sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Menurut Babad Tanah Jawi, murid Sunan Giri juga bertebaran sampai ke Cina, Mesir, Arab, dan Eropa. Pesantren Giri merupakan pusat ajaran tauhid dan fikih, karena Sunan Giri meletakkan ajaran Islam di atas Al-Quran dan sunah Rasul.

Ia tidak mau berkompromi dengan adat istiadat, yang dianggapnya merusak kemurnian Islam. Karena itu, Sunan Giri dianggap sebagai pemimpin kaum ”putihan”, aliran yang didukung Sunan Ampel dan Sunan Drajat. Tapi, Sunan Kalijaga menganggap cara berdakwah Sunan Giri kaku. Menurut Sunan Kalijaga, dakwah hendaklah pula menggunakan pendekatan kebudayaan.

Misalnya dengan wayang. Paham ini mendapat sokongan dari Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati. Perdebatan para wali ini sempat memuncak pada peresmian Masjid Demak. ”Aliran Tuban” –Sunan Kalijaga cs– ingin meramaikan peresmian itu dengan wayang. Tapi, menurut Sunan Giri, menonton wayang tetap haram, karena gambar wayang itu berbentuk manusia.

Akhirnya, Sunan Kalijaga mencari jalan tengah. Ia mengusulkan bentuk wayang diubah: menjadi tipis dan tidak menyerupai manusia. Sejak itulah wayang beber berubah menjadi wayang kulit. Ketika Sunan Ampel, ”ketua” para wali, wafat pada 1478, Sunan Giri diangkat menjadi penggantinya. Atas usulan Sunan Kalijaga, ia diberi gelar Prabu Satmata.

Diriwayatkan, pemberian gelar itu jatuh pada 9 Maret 1487, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Gresik. Di kalangan Wali nan Sembilan, Sunan Giri juga dikenal sebagai ahli politik dan ketatanegaraan. Ia pernah menyusun peraturan ketataprajaan dan pedoman tata cara di keraton. Pandangan politiknya pun dijadikan rujukan.

Menurut Dr. H.J. De Graaf, lahirnya berbagai kerajaan Islam, seperti Demak, Pajang, dan Mataram, tidak lepas dari peranan Sunan Giri. Pengaruhnya, kata sejarawan Jawa itu, melintas sampai ke luar Pulau Jawa, seperti Makassar, Hitu, dan Ternate. Konon, seorang raja barulah sah kerajaannya kalau sudah direstui Sunan Giri.

Pengaruh Sunan Giri ini tercatat dalam naskah sejarah Through Account of Ambon, serta berita orang Portugis dan Belanda di Kepulauan Maluku. Dalam naskah tersebut, kedudukan Sunan Giri disamakan dengan Paus bagi umat Katolik Roma, atau khalifah bagi umat Islam. Dalam Babad Demak pun, peran Sunan Giri tercatat.

Ketika Kerajaan Majapahit runtuh karena diserang Raja Girindrawardhana dari Kaling Kediri, pada 1478, Sunan Giri dinobatkan menjadi raja peralihan. Selama 40 hari, Sunan Giri memangku jabatan tersebut. Setelah itu, ia menyerahkannya kepada Raden Patah, putra Raja Majapahit, Brawijaya Kertabhumi.

Sejak itulah, Kerajaan Demak Bintoro berdiri dan dianggap sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa. Padahal, sebenarnya, Sunan Giri sudah menjadi raja di Giri Kedaton sejak 1470. Tapi, pemerintahan Giri lebih dikenal sebagai pemerintahan ulama dan pusat penyebaran Islam. Sebagai kerajaan, juga tidak jelas batas wilayahnya.

Tampaknya, Sunan Giri lebih memilih jejak langkah ayahnya, Syekh Maulana Ishak, seorang ulama dari Gujarat yang menetap di Pasai, kini Aceh. Ibunya Dewi Sekardadu, putri Raja Hindu Blambangan bernama Prabu Menak Sembuyu. Kisah Sunan Giri bermula ketika Maulana Ishak tertarik mengunjungi Jawa Timur, karena ingin menyebarkan agama Islam.

Setelah bertemu dengan Sunan Ampel, yang masih sepupunya, ia disarankan berdakwah di daerah Blambangan. Ketika itu, masyarakat Blambangan sedang tertimpa wabah penyakit. Bahkan putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu, ikut terjangkit. Semua tabib tersohor tidak berhasil mengobatinya.

Akhirnya raja mengumumkan sayembara: siapa yang berhasil mengobati sang Dewi, bila laki-laki akan dijodohkan dengannya, bila perempuan dijadikan saudara angkat sang dewi. Tapi, tak ada seorang pun yang sanggup memenangkan sayembara itu. Di tengah keputusasaan, sang prabu mengutus Patih Bajul Sengara mencari pertapa sakti.

Dalam pencarian itu, patih sempat bertemu dengan seorang pertapa sakti, Resi Kandayana namanya. Resi inilah yang memberi ”referensi” tentang Syekh Maulana Ishak. Rupanya, Maulana Ishak mau mengobati Dewi Sekardadu, kalau Prabu Menak Sembuyu dan keluarganya bersedia masuk Islam. Setelah Dewi Sekardadu sembuh, syarat Maulana Ishak pun dipenuhi.

Seluruh keluarga raja memeluk agama Islam. Setelah itu, Dewa Sekardadu dinikahkan dengan Maulana Ishak. Sayangnya, Prabu Menak Sembuyu tidak sepenuh hati menjadi seorang muslim. Ia malah iri menyaksikan Maulana Ishak berhasil mengislamkan sebagian besar rakyatnya. Ia berusaha menghalangi syiar Islam, bahkan mengutus orang kepercayaannya untuk membunuh Maulana Ishak.

Merasa jiwanya terancam, Maulana Ishak akhirnya meninggalkan Blambangan, dan kembali ke Pasai. Sebelum berangkat, ia hanya berpesan kepada Dewi Sekardadu –yang sedang mengandung tujuh bulan– agar anaknya diberi nama Raden Paku. Setelah bayi laki-laki itu lahir, Prabu Menak Sembuyu melampiaskan kebenciannya kepada anak Maulana Ishak dengan membuangnya ke laut dalam sebuah peti.

Alkisah, peti tersebut ditemukan oleh awak kapal dagang dari Gresik, yang sedang menuju Pulau Bali. Bayi itu lalu diserahkan kepada Nyai Ageng Pinatih, pemilik kapal tersebut. Sejak itu, bayi laki-laki yang kemudian dinamai Joko Samudro itu diasuh dan dibesarkannya. Menginjak usia tujuh tahun, Joko Samudro dititipkan di padepokan Sunan Ampel, untuk belajar agama Islam.

Karena kecerdasannya, anak itu diberi gelar ”Maulana `Ainul Yaqin”. Setelah bertahun-tahun belajar, Joko Samudro dan putranya, Raden Maulana Makhdum Ibrahim, diutus Sunan Ampel untuk menimba ilmu di Mekkah. Tapi, mereka harus singgah dulu di Pasai, untuk menemui Syekh Maulana Ishak.

Rupanya, Sunan Ampel ingin mempertemukan Raden Paku dengan ayah kandungnya. Setelah belajar selama tujuh tahun di Pasai, mereka kembali ke Jawa. Pada saat itulah Maulana Ishak membekali Raden Paku dengan segenggam tanah, lalu memintanya mendirikan pesantren di sebuah tempat yang warna dan bau tanahnya sama dengan yang diberikannya.

Kini, jejak bangunan Pesantren Giri hampir tiada. Tapi, jejak dakwah Sunan Giri masih membekas. Keteguhannya memurnikan agama Islam juga diikuti para penerusnya. Sunan Giri wafat pada 1506 Masehi, dalam usia 63 tahun. Ia dimakamkan di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. (sunatullah.com)