Umat Islam kurang menjadikan al-Qur’an sebagai “senjata” segala hal. Umumnya, hanya dibaca secara ritual semata

Hidayatullah.com–Posisi umat Islam sangat memprihatinkan. Hampir di berbagai belahan dunia terpinggirkan. Umat Islam, sekarang tidak lebih ibarat buih di lautan. Terombang ambing dibawa ombak. Tidak punya kekuatan dan tidak diperhitungkan. Di berbagai sisi lemah dan posisinya selalu ditentukan oleh musuh.

Padahal, umat Islam seharusnya menjadi umat yang, “Ya’lu wala yu’la ‘alaihi”. Tinggi dan tidak ada yang menandingi. Di berbagai lini selalu jadi penentu kebijakan dan pemimpin. Tapi, kini faktanya justru terbalik. Kondisi pelik inilah yang jadi sorotan mantan Dubes Qatar, Abd Wahid Maktub saat memberi tausyiah dalam acara targhib Ramadhan ”Ramadhan, Lejitkan Energi Iman Menuju Taqwa” di masjid Aqshal Madinah Pesantren Hidayatullah Surabaya, pada Sabtu (7/8).

Maktub mengatakan, kondisi itu tercipta karena salah umat Islam sendiri. Al-Qur’an, senjata umat Islam, tidak dijadikan sebagai “senjata” dan hanya dibaca secara ritual semata. Sedang isinya tidak dipraktikkan.

“Itulah penyebab umat Islam kalah dengan yang lain,” ujarnya. Padahal, jika umat Islam mau menerapkan isi al-Qur’an, Allah SWT akan menepati janji-Nya.

Lebih tegas, Maktub mengatakan, isi al-Qur’an sangat luar biasa. Tidak ada kitab sehebat al-Qur’an. Karena itu, umat Islam harus percaya dan yakin, bukan justru malu, minder, dan tidak bangga. “Tunjukkan bahwa al-Qur’an itu hebat,” tegas Maktub sambil mengepalkan tangan kanannya.

“Bukankah jelas dalam al-Qur’an, Allah katakan, “Laa raiba fiih”, imbuhnya. Jika memakai al-Qur’an, maka kita akan disegani dan dihormati.

Maktub mengatakan, Ramadhan adalah bulan al-Qur’an. Karena itu, sangat tepat bagi umat Islam untuk menjadikan momen bulan suci itu sebagai sarana mempelajari dan mempraktikkan al-Qur’an. [ans/www.hidayatullah.com]