Kesadaran umat Islam untuk membaca al-Qur’an memang cukup menggembirakan. Tetapi mentadabburinya masih perlu ditingkatkan
Hidayatullah.com–Bulan Ramadhan dipahami oleh sebagian besar umat Islam negeri ini sebagai bulan al-Qur’an. Karenanya di bulan ini masjid-masjid di seluruh negeri semarak menyelenggarakan program tadarrus bersama. Pemahaman tersebut tidaklah keliru, karena di bulan Ramadhan-lah al-Qur’an diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw.

“Berbicara Ramadhan dengan al-Qur’an ibarat jiwa dan raga. Keduanya inheren  dan tidak bisa dipisahkan. Dalam al-Qur’an sudah dijelaskan bahwa di bulan suci ini Allah menurunkan al-Qur’an yang menjadi petunjuk bagi manusia, bukti kebenaran, dan penjelasan dari petunjuk itu sendiri, dan sebagai pembeda,” terang Fahmi Salim,  peneliti INSISTS juga penulis buku-buku Islam kepada hidayatullah.com siang ini (11/8).

Menurut penulis buku “Kritik Studi Qur’an Liberal” ini, puasa dan membaca al-Qur’an adalah amalan yang sangat mulia dan menguntungkan bagi yang mengamalkannya.

“Puasa dan membaca al-Qur’an itu sangat mulia. Keduanya bisa mendatangkan syafaat kelak di hari kiamat,” jelasnya.

Oleh karena itu peneliti dari INSISTS ini menyerukan kepada umat Islam agar di bulan Ramadhan yang mulia ini, semua umat Islam tidak berhenti pada tingkat membacanya saja. Tetapi juga berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mentadabburi al-Qur’an.

“Tingkat literasi atau pemahaman umat Islam terhadap al-Qur’an masih minim. Maka dari itu saya harap kepada seluruh umat Islam agar proses tilawah diikuti juga dengan proses tadabbur. Nah, sekarang adalah momentum yang tepat untuk memulai gerakan tadabbur al-Qur’an. Karena ini sangat penting dan mendesak,” katanya.

Realita bahwa masih cukup minim umat Islam yang memahami al-Qur’an, menurutnya, bukan karena oleh kendala ini-itu atau apapun. Tetapi lebih pada kesabaran dan konsistensi  semangat dalam mempelajari dan mengamalkannya.

“Saya rasa para sahabat juga bermacam-macam tingkat pemahamannya terhadap al-Qur’an. Bisa karena tingkat kedekatannya dengan Nabi sampai pada kesibukan masing-masing sahabat. Tetapi secara umum mereka cukup istimewa. Mereka istikamah dan sabar dalam mentadabburi al-Qur’an.”

“Kami tidak membaca ayat lebih dari sepuluh ayat dan tidak berpindah pada ayat yang lain sampai kami benar-benar telah memahami dan mengamalkannya,” paparnya.

Mengenai kisah Imam Syafi’i yang mampu mengkatamkan al-Qur’an sampai enam puluh kali selama Ramadhan, karena Imam Syafi’i mentadabburi al-Qur’an tidak saja pada bulan Ramadhan tetapi sepanjang tahun.

Kalau bicara Imam Syafi’i tentu kita jauh tertinggal. Karena beliau seorang fakih dan tidak membaca dan mentadabburi al-Qur’an hanya pada bulan Ramadhan saja, tetapi pada semua bulan sepanjang tahun, sehingga Ramadhan adalah bulan bagi beliau untuk mempertajam pemahamannya dan memelihara hafalannya.”

“Kalau kita mau seperti Imam Syafi’I, wah itu niat yang sangat bagus. Tetapi dengan kondisi kita sekarang, saya berharap umat Islam bisa meningkatkan tilawahnya dengan lebih baik dan pada saat yang sama juga serius mentadabburinya,” tutupnya.[imam/hidayatullah.com]