Penyakit bani Adam yang merupakan musibah adalah merasa dirinya cukup dengan amal  dan seolah sudah sempurna

oleh: Amiruddin Thamrin MA*

Syaikh Dhirar bin Murrah, seorang ulama sufi kenamaan yang hidup di Kufah (Iraq), wafat pada 132 Hijriyah, pernah berkata bahwa Iblis mengatakan, ”Jika saya mampu menguasai bani Adam dalam tiga hal, berarti keinginanku telah tercapai dan saya telah menang, yaitu: Pertama, jika lupa akan dosanya; Kedua, jika merasa cukup akan amalnya; Ketiga, jika kagum dan bangga akan pendapatnya (merasa pintar).

Sebenarnya ketiga hal (penyakit) pancingan Iblis yang dikhawatirkan Syaikh Dhirar merupakan penjelmaan dari inti ajaran agama yang banyak ayat dan hadits Nabi SAW secara mantuq dan mafhum yang meminta untuk menjauhkan hal-hal tersebut.

Penyakit lupa akan dosa, intinya adalah agar manusia senantiasa ingat dan beristighfar kepada Allah SWT, karena semua manusia tak luput dari dosa. Ingat dosa, istighfar dan bertaubat adalah sarana untuk menyambut ke depan yang lebih baik dengan penuh asa. Jika manusia lupa akan dosa akan mudah tertutup hatinya karena tidak merasa butuh kepada ampunan Allah, dus rasa keangkuhan akan timbul. Pada gilirannya keagungan dan kebesaran Tuhan sudah tidak tampak lagi di hadapannya, karena Allah menghilangkan bukti kebesaran dan keagunganNya dari para mutakabbirin.

Firman Allah SWT, ”Aku akan memalingkan tanda-tanda kekuasaan-Ku dari orang-orang yang menyombongkan diri (mutakabbir) di muka bumi tanpa alasan yang benar.”(QS.7/146).

Manusia seperti ini tidak lagi merasa bersalah jika melakukan maksiat atau dosa, parahnya lagi sudah tidak sungkan untuk terang-terangan dalam maksiat atau mujaharah. Perbuatan dosa yang mujaharah ini yang sulit diampunkan oleh Maha Pengampun, karena sudah tidak takut dan malu lagi terhadap Allah SWT dan tidak malu pula terhadap manusia.

Tidak berpuasa secara terang-terangan, minum-minum keras di depan khalayak, bahkan berselingkuh, (baca: berzina direkam, sehingga teredarkan). Orang yang berbuat dosa tapi sembunyi hanya Allah SWT yang tahu, lebih baik ketimbang manusia yang berbuat dosa tapi terang-terangan.

Pada saat Allah SWT menutup rahasia dosa manusia agar manusia tersebut suatu ketika bertaubat kepadaNya, sayangnya manusia sendiri mendeklarasikan, bahkan menceritakan dan bangga atas dosanya! Bagaimana manusia lain dapat menutup aib saudara yang mujaharah, kalau dia sendiri yang menyebarkannya?

Musibah lain yang merupakan penyakit bani Adam yaitu merasa cukup dengan amal (cukup dengan apa yang diketengahkan). Apa yang telah dikerjakan seakan sudah sempurna, sehingga tidak mau mengoreksi dan mengembangkan ke arah lebih baik lagi. Tak pernah bertanya sudah cukupkah amal saya? Sudah betulkah ibadahnya? Akibatnya tidak mau balajar qiraat al-Qur’an karena sudah merasa betul bacaannya, juga tidak mau belajar hukum thaharah,  wudhu, shalat secara benar karena sudah merasa cukup benar, dan tidak mau pula meningkatkan kerja yang bermanfaat.

Penyakit merasa cukup harus segera ditanggalkan, sebaliknya, harus terus menyempurnakan dan mengembangkan ke arah yang lebih baik lagi, yang dituntut merasa cukup dan qana’ah hanyalah terhadap karunia yang diberikan Allah SWT (rizki) agar jangan menjadi tamak, tentunya setelah berusaha maksimal dan tawakkal.

Mudah-mudahan Ramadhan ini bisa kita jadikan momentum yang baik menyempurnakan amalan kita.

(Penulis tinggal di Damaskus-Suriah)