Pernyataan dan perwujudan rasa sayang dan cinta seorang ibu terhadap anak-anaknya ternyata dapat membantu anak-anak tersebut untuk mengatasi stres mereka pada saat dewasa nanti, menyoroti ikatan ibu-anak dalam fleksibilitas emosional, kata kesimpulan satu penelitian.

Sebuah tim peneliti, yang dipimpin oleh Dr. Joanna Maselko dari Duke University di North Carolina, telah menemukan bahwa tingginya kasih sayang seorang ibu cenderung memfasilitasi pertalian aman antara ibu dan anak yang tidak hanya menurunkan tekanan sang anak tetapi juga dapat membantu anak untuk mengembangkan kehidupan yang efektif, sosial, dan keterampilan sewaktu sang anak menjadi dewasa.

“Kami menemukan bahwa pengamatan secara objektif pada tingkat kadar kasih sayang antara ibu dan bayi mereka yang berusia delapan bulan dapat dikaitkan dengan lebih sedikit gejala tingkat stres atau sakit sang anak sesudah 30 tahun kemudian,” lapor tim peneliti.

Peneliti mengadakan penelitian membujur pada hampir 500 orang individu sewaktu masih anak-anak dan menjadi orang dewasa di negara bagian AS Rhode Island.

Pada awal penelitian, para psikolog menilai kualitas interaksi antara ibu dan anak-anak mereka yang berusia delapan bulan selama rutinitas perkembangan check up ibu dengan memberikan skor berdasarkan kehangatan interaksi keduanya.

Tiga puluh tahun kemudian, para psikolog melakukan wawancara dengan orang dewasa tentang kesejahteraan mereka dan emosi mereka dan menanyakan apakah mereka menganggap ibu mereka telah memberikan kasih sayang terhadap mereka.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat, mengungkapkan bahwa orang dewasa yang sewaktu bayi mendapatkan kasih sayang yang lebih dari ibu mereka memiliki tingkat terendah atas kecemasan, permusuhan, dan gejala stres umum yang biasa terjadi pada orang dewasa.

Para peneliti mengatakan bahwa temuan ini menambah bukti bahwa semakin meningkat rasa sayang seorang ibu terhadap anaknya di masa kecil akan membantu sang anak melakukan persiapan untuk pengalaman kehidupan dewasa nanti, namun mengatakan pengaruh faktor lain, seperti kepribadian, pengasuhan, dan sekolah, tidak bisa dikesampingkan begitu saja.(fq/prtv)