Jumat, 28 Agustus 2009 | 08:59 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com – Ketua Persaudaraan Hindu Muslim Bali atau PHMB Anak Agung Ngurah Agung mengemukakan, saat ini di Bali sudah diperlukan adanya pramuwisata untuk tujuan wisata religi Islam.

“Tujuan wisata religius Islam di Bali saya kira semakin banyak pengunjungnya. Karena itu, perlu ada pemandu wisata khusus yang mengerti mengenai masalah Islam,” katanya di Denpasar, Kamis (27/8).

Pria yang berasal dari Puri Gerenceng-Pemecutan itu mengemukakan, di Bali sangat banyak makam dari tokoh Muslim yang menjadi tujuan wisata religi umat Muslim, khususnya dari Jawa dan pulau-pulau lainnya.

“Di Bali ini banyak makam tokoh yang pernah menyebarkan Agama Islam dan kemudian dikeramatkan oleh Muslim, baik di Bali sendiri maupun dari luar. Sekarang di kalangan teman-teman Muslim ada istilah ziarah ’wali pitu’ atau wali tujuh kalau berkunjung ke Bali,” katanya.

Ia mengemukakn, sejumlah makam yang dianggap tokoh oleh kaum Muslim itu banyak yang dijaga oleh umat Hindu Bali. Hal itu juga menunjukkan bahwa hubungan antara umat Hindu dan Muslim di Pulau Dewata itu sangat harmonis.

Salah satu makam tokoh yang dianggap keramat oleh umat Muslim dan juga umat Hindu adalah Raden Ayu Pemecutan atau Rade Ayu Siti Khotijah yang terletak di Denpasar. Makam Muslim tersebut juga dikeramatkan umat Hindu, karena Raden Ayu Siti Khotijah merupakan putri Raja Pemecutan yang menikah dengan bangsawan asal Madura, Pangeran Cakraningrat IV.

Menurut AA Ngurah Agung, selain menjalankan wisata religi Muslim, sebetulnya di Denpasar juga memiliki potensi wisata mengunjungi puri atau keraton yang jumlahnya sangat banyak.

“Kami akan berupaya supaya wisatawan itu nantinya bisa mengunjungi puri-puri di Denpasar dan Badung, bahkan mungkin di seluruh Pulau Dewata. Ini memang memerlukan koordinasikan dari seluruh puri,” katanya.

Sementara salah satu tokoh pemuda Muslim Bali Deny Rahadian Muhammad mengemukakan, pihaknya masih akan melakukan penelusuran mengenai adanya makam “wali pitu” yang mirip dengan makam “wali songo” atau wali sembilan di Tanah Jawa.

“Sebab dari tujuh makam itu, banyak tokoh yang sebetulnya sejarahnya sangat jelas, tapi kok malah tidak dimasukkan, seperti makam Rade Ayu Siti Khotijah dan makam keturunan Raja Bugis di kampung Bugis di Denpasar,” ujarnya.

Ia mengemukakan, sebetulnya wisata religi di Bali juga potensial, selain tujuan wisata budaya dan alam yang memang sudah sangat terkenal.

Wisatawan yang datang ke Bali, menurut dia, juga banyak yang berasal dari umat Muslim, sehingga di Pulau Dewata mereka memiliki alternatif lain untuk tujuan wisata.