Senin, 7 Juni 2010 | 15:42 WIB
KOMPAS/SARIE FEBRIANE
Camden Market, pasar terbuka yang bersih dan tertata. Kios-kios dari kayu berjajar rapi dan terkelola dengan baik (kiri). Camden Market salah satu pasar terbuka terkenal di London, Inggris.

Oleh SARIE FEBRIANE

Barang-barang Indonesia bukan barang murahan, tetapi berkualitas. Buktinya adalah produk kita bisa hadir di Harrods ini.
— Sapta Nirwandar

Mohamed Al Fayed (81) bengong, tidak mengerti, ketika ditanyai beberapa wartawan dari Indonesia apakah dirinya menyukai batik. Rupanya dia belum mengenal istilah batik sebagai produk tekstil khas Indonesia. Untuk menghibur penanyanya, pria asal Mesir itu buru-buru berkata dirinya sangat antusias mendukung promosi pariwisata Indonesia di Inggris.

Tentu saja sebab promosi tersebut digelar di Harrods, yang ketika itu masih miliknya. Beberapa produk Indonesia, seperti batik, dan beberapa daerah wisata di Indonesia dipamerkan di pusat belanja termewah di London, Inggris, tersebut.

Untuk promosi itu, Pemerintah RI perlu merogoh kocek hingga Rp 5,5 miliar sebagai biaya promosi, dari tanggal 1 April hingga 31 April. Pemasukan lumayan untuk Harrods, sebelum Al Fayed akhirnya menjual toko mewah itu ke Qatar Holdings, sepekan setelah promosi Indonesia usai.

Kedatangan Al Fayed siang itu, pada awal April, mengejutkan para peserta jamuan makan siang di Georgian Restaurant, restoran mewah di lantai empat Harrods. Rupanya, Al Fayed tengah iseng mampir sembari menyapa para peserta jamuan dari Indonesia. Jamuan itu menandai peresmian promosi Indonesia di Harrods.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Inggris Raya, Yuri Thamrin serta Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Sapta Nirwandar siang itu bercakap-cakap singkat dengan Al Fayed, diselingi canda tawa. Boleh dibilang, promosi Indonesia saat itu menjadi semacam penutup takhta Al Fayed di Harrods.

Mengapa promosi Indonesia yang bertajuk ”Remarkable Indonesia” itu harus digelar di Harrods yang memungut ongkos tinggi? Menurut Sapta, Harrods dipilih karena pertimbangan citranya yang mentereng.

”Barang-barang Indonesia bukan barang murahan, tetapi berkualitas. Buktinya adalah produk kita bisa hadir di Harrods ini. Jadi, ongkos promosi tersebut merupakan investasi jangka panjang. Ini soal branding,” ujar Sapta yakin.

Sebagai gambaran, kunjungan turis asal Inggris ke Indonesia pada Januari 2010 sebanyak 12.352 orang, meningkat 19,26 persen dibandingkan dengan Januari 2009. Sepanjang 2009, kunjungan memuncak pada Juli dan Agustus, tertinggi pada Agustus yakni 18.556 orang. Total jumlah pengunjung dari Inggris ke Indonesia sepanjang 2009 adalah 178.255 orang. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI menargetkan kunjungan dari Inggris 175.000 orang per tahun.

Yuri berkata, Harrods menerima Indonesia menjadi penting. Sebab, rakyat Inggris pada umumnya hanya mengenal negara-negara Asia yang berada di bawah persemakmuran Inggris. Oleh karena itu, di Inggris, Indonesia jauh kalah populer dibandingkan dengan Malaysia.

Pemilihan Harrods, menurut Sapta, cukup strategis mengingat turis dari sejumlah kawasan di Inggris dan negara-negara di Eropa pun jika berkunjung ke London, umumnya mampir ke Harrods. Sebagai gambaran, sepanjang April Harrods dikunjungi 1,5 juta orang.

Hanya ”display”

Namun, jangan mengira produk-produk yang dipajang selama sebulan di Harrods itu bisa dibeli oleh pengunjung Harrods. Sebab, berbagai produk yang dipajang itu hanyalah barang contoh. Setelah masa promosi usai, barang-barang yang dipajang itu pun harus hengkang dari Harrods.

Sapta mengatakan, hal itu karena target pembelinya adalah wholesaler, bukan retailer. Selain itu, tak mudah untuk begitu saja menjual produk Indonesia di Harrods. Pemasangan display produk saja sudah pencapaian lumayan. Peminat dapat menghubungi langsung desainer atau penjual produk, lalu menjalin kerja sama dagang yang nilainya lebih signifikan.

Sapta amat bangga Indonesia dapat menggelar promosi di Harrods. Sebab, menurut dia, hal itu tidak mudah. Terlebih persiapan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI relatif singkat, yaitu kurang dari tiga bulan. Sementara negara-negara lain yang sebelumnya berpromosi, seperti Thailand dan Malaysia, menyiapkannya selama setahun.

Berbagai produk yang dipajang di Harrods itu, misalnya, busana karya desainer Ghea Panggabean, Oscar Lawalata, Edward Hutabarat, Carmanita, Stephanus Hamy, Auguste Soesastro, Obin, dan Dian Pelangi. Selain busana, dipamerkan pula produk lainnya mulai dari perhiasan, kerajinan tangan, hingga radio magno kayu yang unik, desain dari Singgih Kartono. Radio kayu desain Singgih itu telah berkali-kali memenangkan penghargaan internasional di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia.

Harrods yang berlokasi di Brompton Road, Knightsbridge, tersebut memakan areal seluas 18.000 meter persegi. Masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan sejumlah mal megah di Jakarta. Sementara luas ruang penjualan di Harrods yang berlantai lima itu adalah 90.000 meter persegi. Dari luasan itu, ruang yang digunakan untuk promosi Indonesia sebenarnya hanya segelintir.

Etalase jendela untuk memamerkan beberapa produk tekstil, misalnya, Indonesia hanya menempati empat jendela dari 72 jendela yang ada. Keempat jendela etalase itu berada di salah satu pojok gedung, menghadap jalan utama Brompton Road. Selain itu, belasan poster dan layar plasma berisi promosi pariwisata Indonesia dipajang di berbagai titik, khususnya dekat eskalator dan pintu masuk, yang banyak dilalui pengunjung.

Daerah wisata yang dipromosikan itu, misalnya, Pulau Komodo, Raja Ampat, Taman Laut Nasional Bunaken, Lombok, Bali, Danau Toba, hingga Taman Nasional Tanjung Puting.

Namun, tidak semua titik lokasi promosi cukup strategis untuk dipandang. Di lantai dua, misalnya, berbagai brosur dan kerajinan wayang dipamerkan pada semacam meja mungil berukuran 1 meter x 1,5 meter. Meja itu berada di lorong pendek di depan lift menuju tempat penjualan koper. ”Tak apa, di sini kan pengunjung kalau mau beli koper mesti melewati lokasi ini dan melihat promosi kita,” ujar Sapta.

Selain produk Indonesia, selama April, pengunjung Harrods juga dapat menikmati 21 macam masakan tradisional Indonesia yang didukung tim dari majalah Femina, bekerja sama dengan chef di Harrods. Masakan Indonesia dapat ditemui di Food Halls di lower ground. Pengunjung juga dapat menikmati masakan Indonesia dalam sajian buffet seharga 42 poundsterling di Georgian Restaurant.

Masakan yang disajikan mulai dari nasi goreng, lauk serba tempe, sate ayam Madura, hingga berbagai hidangan manis pencuci mulut. Sayangnya, siang itu nasi goreng yang tersaji nasinya terasa belum tanak, masih setengah beras. Orang Jawa menyebutnya nglethis. Soal rasa, memang telah disesuaikan dengan lidah bule sehingga bisa dimaklumi.

Hal yang sama juga terjadi pada hidangan manis ketan hitam, yang ketannya terasa belum tanak. Mungkin chef di Harrods memang kesulitan berurusan dengan beras-berasan.

Meskipun begitu, mudah-mudahan saja promosi senilai Rp 5,5 miliar itu benar-benar membawa hasil nyata. Sebab, sekadar menembus pintu Harrods, tentunya belum dapat dianggap sebagai bentuk keberhasilan dalam mempromosikan pariwisata Indonesia. Kita lihat saja nanti.