Archive for Juni, 2010

Liburan, Maskapai Tambah Jadwal

Rabu, 16 Juni 2010 | 21:19 WIB

SEMARANG, KOMPAS – Menjelang liburan sekolah, maskapai penerbangan bersiap dengan kemungkinan peningkatan tingkat keterisian penumpang atau load factor. Selain berencana menambah jadwal penerbangan, program liburan pun ditawarkan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan.

Maskapai penerbangan Sriwijaya Air misalnya, akan menambah frekuensi penerbangan Semarang-Jakarta dari dua kali sehari menjadi tiga kali sehari. District Manager Sriwijaya Air Semarang Hendrik Ardiyansah, Selasa (15/6), di Kota Semarang, mengatakan, penambahan jadwal itu dimulai bulan ini.

Hendrik menjelaskan, di musim liburan atau peak season, tingkat keterisian penumpang bisa mencapai 97 persen. Sedangkan keterisian penumpang rata-rata bulan April-Mei berada pada kisaran 91 persen untuk rute Semarang-Jakarta.

Sementara untuk Semarang-Surabaya, tingkat keterisian penumpang mencapai 95 persen. Jadwal penerbangan Semarang-Surabaya juga akan ditambah menjadi dua kali, khusus hari Jumat dan Minggu.

“Musim liburan kali ini, kami perkirakan berlangsung mulai 15 Juni-15 Juli. Kami juga menawarkan program khusus diskon 20 persen untuk semua rute dan jurusan, untuk siswa berprestasi,” kata Hendrik.

Ranking 1-5

Potongan tersebut diberikan untuk siswa sekolah dari SD-SMA yang mendapat ranking 1-5 di kelasnya. Tidak hanya untuk siswa yang bersangkutan, diskon juga diberikan untuk dua orang pendampingnya.

Menurut Hendrik, pemberian diskon untuk siswa berprestasi itu merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat.

Maskapai penerbangan Batavia Air, meskipun tidak memiliki program khusus, tetap bersiap menghadapi musim liburan.

Distrik Manager Batavia Air Agnes Tjahjani mengatakan, pihaknya masih akan melihat permintaan masyarakat. Jika ada lonjakan permintaan, penambahan jadwal akan dipertimbangkan.

“Selama ini load factor Jakarta-Semarang sangat bagus, bisa mencapai rata-rata 90 persen, terutama sejak awal 2010. Kami optimistis di musim liburan load factor akan lebih tinggi,” kata Agnes.

Sementara itu, PT Kereta Api Daerah Operasional IV Semarang menyiapkan hal serupa untuk mengantisipasi lonjakan penumpang. Humas PT KA Daop IV Sapto Hartoyo menyampaikan, jika permintaan melonjak, rangkaian kereta akan dimaksimalkan.

“Untuk KA Argo Muria dan Argo Sindoro, misalnya, dari tujuh rangkaian, akan dimaksimalkan menjadi sembilan rangkaian. Kami memperkirakan puncak kepadatan penumpang akan terjadi di akhir masa liburan. Di awal, biasanya yang ramai dari Jakarta,” ujar Sapto. (UTI)

Iklan

Pengunjung Keraton Yogya Naik 200 Persen

Senin, 21 Juni 2010 | 19:01 WIB

WAWAN H PRABOWO

Keraton Yogya

YOGYAKARTA, KOMPAS.com- Memasuki musim liburan sekolah di Indonesia serta libur musim panas di Eropa, jumlah kunjungan wisatawan ke Keraton Yogyakarta naik hingga 200 persen. Pada Senin (21/6/2010), misalnya, wisatawan berjubel dan harus antre untuk masuk ke dalam lokasi Museum Keraton Yogyakarta.

Kunjungan selama musim libur kali ini bisa mencapai 5.000 orang per hari. Meski jumlah pengunjung melonjak, pengelola Keraton Yogyakarta tidak menaikkan harga tiket.

Sekretaris Pengelola Museum Keraton Yogyakarta Brahmana mengungkapkan, wisatawan terutama mengalir dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sumatera. “Kenaikan wisatawan mancanegara mencapai sekitar 100 persen,” kata Brahmana.

Harga tiket masuk ke Museum Keraton Yogyakarta cukup terjangkau oleh masyarakat. Wisatawan domestik harus membayar Rp 5.000 per orang sedangkan wisatawan asing Rp 12.000 per orang. Khusus bagi rombongan siswa sekolah dasar, pengelola memberikan diskon harga hingga 50 persen.

Guru dari SMKN 48 Jakarta, Wasini, mengatakan membawa sekitar 260 siswa dalam rangkaian tur belajar. Kunjungan ke Museum Keraton Yogyakarta selalu diagendakan agar para siswa bisa belajar tentang sejarah.

Tingginya minat wisatawan mancanegara sempat menyebabkan pengelola kewalahan dalam penyediaan pemandu wisata bagi wisatawan asing. Untuk pemandu wisata dengan keahlian bahasa Perancis, misalnya, pengelola museum sampai kehabisan stok. Setiap pemandu wisata di Keraton Yogyakarta minimal harus menguasai dua bahasa.

Padahal Museum Keraton Yogyakarta mempunyai 60 pemandu wisata dengan keahlian bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Spanyol, dan Jepang. Seorang pemandu wisata, Harto, mengaku harus bolak-balik menemani turis berkeliling keraton hingga lima kali dalam sehari dari biasanya hanya 2-3 kali.

Lonjakan wisatawan mancanegara diperkirakan akan terus berlangsung hingga September mendatang. Kepala Dinas Pariwisata DIY Tazbir menambahkan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke DIY adalah sebanyak 10 persen dari total wisatawan.

Bali Butuh Pemandu Wisata Religi Islam

Jumat, 28 Agustus 2009 | 08:59 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com – Ketua Persaudaraan Hindu Muslim Bali atau PHMB Anak Agung Ngurah Agung mengemukakan, saat ini di Bali sudah diperlukan adanya pramuwisata untuk tujuan wisata religi Islam.

“Tujuan wisata religius Islam di Bali saya kira semakin banyak pengunjungnya. Karena itu, perlu ada pemandu wisata khusus yang mengerti mengenai masalah Islam,” katanya di Denpasar, Kamis (27/8).

Pria yang berasal dari Puri Gerenceng-Pemecutan itu mengemukakan, di Bali sangat banyak makam dari tokoh Muslim yang menjadi tujuan wisata religi umat Muslim, khususnya dari Jawa dan pulau-pulau lainnya.

“Di Bali ini banyak makam tokoh yang pernah menyebarkan Agama Islam dan kemudian dikeramatkan oleh Muslim, baik di Bali sendiri maupun dari luar. Sekarang di kalangan teman-teman Muslim ada istilah ziarah ’wali pitu’ atau wali tujuh kalau berkunjung ke Bali,” katanya.

Ia mengemukakn, sejumlah makam yang dianggap tokoh oleh kaum Muslim itu banyak yang dijaga oleh umat Hindu Bali. Hal itu juga menunjukkan bahwa hubungan antara umat Hindu dan Muslim di Pulau Dewata itu sangat harmonis.

Salah satu makam tokoh yang dianggap keramat oleh umat Muslim dan juga umat Hindu adalah Raden Ayu Pemecutan atau Rade Ayu Siti Khotijah yang terletak di Denpasar. Makam Muslim tersebut juga dikeramatkan umat Hindu, karena Raden Ayu Siti Khotijah merupakan putri Raja Pemecutan yang menikah dengan bangsawan asal Madura, Pangeran Cakraningrat IV.

Menurut AA Ngurah Agung, selain menjalankan wisata religi Muslim, sebetulnya di Denpasar juga memiliki potensi wisata mengunjungi puri atau keraton yang jumlahnya sangat banyak.

“Kami akan berupaya supaya wisatawan itu nantinya bisa mengunjungi puri-puri di Denpasar dan Badung, bahkan mungkin di seluruh Pulau Dewata. Ini memang memerlukan koordinasikan dari seluruh puri,” katanya.

Sementara salah satu tokoh pemuda Muslim Bali Deny Rahadian Muhammad mengemukakan, pihaknya masih akan melakukan penelusuran mengenai adanya makam “wali pitu” yang mirip dengan makam “wali songo” atau wali sembilan di Tanah Jawa.

“Sebab dari tujuh makam itu, banyak tokoh yang sebetulnya sejarahnya sangat jelas, tapi kok malah tidak dimasukkan, seperti makam Rade Ayu Siti Khotijah dan makam keturunan Raja Bugis di kampung Bugis di Denpasar,” ujarnya.

Ia mengemukakan, sebetulnya wisata religi di Bali juga potensial, selain tujuan wisata budaya dan alam yang memang sudah sangat terkenal.

Wisatawan yang datang ke Bali, menurut dia, juga banyak yang berasal dari umat Muslim, sehingga di Pulau Dewata mereka memiliki alternatif lain untuk tujuan wisata.

Pramuwisata DIY Harus Kuasai Budaya

Rabu, 23 Juni 2010 | 18:46 WIB

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Banyak cara mengenalkan dan melestarikan keanekaragaman hayati, antara lain melalui wayang. Ki Ledjar Soebroto, misalnya, mementaskan wayang kancil bertajuk Kancil Amongprojo di Pendopo Kepatihan Yogyakarta, Selasa (15/6) malam. Kegiatan yang digelar Badan Lingkungan Hidup Provinsi DI Yogyakarta tersebut, salah satu upaya dalam mengenalkan keanekaragaman hayati bumi Nusantara.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Tiap pramuwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) harus menguasai pengetahuan tentang budaya setempat karena pariwisata di daerah ini memiliki basis kebudayaan. “Dalam memandu wisatawan hendaknya mereka menguasai pengetahuan tentang budaya maupun adat istiadat yang hidup di tengah masyarakat Yogyakarta sehingga wisatawan yang berkunjung ke daerah ini paham tentang keberadaan budaya,” kata Ketua Yayasan Widya Budaya Yogyakarta, Widi Utaminingsih di Yogyakarta, Rabu (23/6/2010).

Wisatawan akan merasa puas jika memperoleh cerita tentang budaya yang ada dikaitkan dengan objek wisata yang mereka kunjungi.

Menurut dia, pengembangan pariwisata DIY dilakukan berdasarkan  kekuatan unsur seni budaya dan adat istiadat yang masih hidup di tengah masyarakat daerah ini sehingga sampai sekarang pariwisata di DIY mampu bertahan dan tidak ditinggalkan wisatawan.

“Jika pramuwisata tidak memiliki kemampuan menyampaikan potensi budaya daerah ini kepada wisatawan, dikhawatirkan mereka menjadi bosan dan tidak akan kembali lagi mengunjungi DIY,” kata Widi yang yayasannya bergerak di bidang pengembangan budaya dan pariwisata berbasis potensi lokal.

Ia mengatakan pramuwisata di daerah ini perlu dibekali pengetahuan tentang potensi seni budaya maupun adat istiadat masyarakat daerah ini. Dengan demikian,  mereka memiliki pengetahuan yang luas tentang kebudayaan di DIY sehingga mampu menceritakannya kepada wisatawan yang berkunjung ke daerah ini.

“Wisatawan akan merasa puas jika memperoleh cerita tentang budaya yang ada dikaitkan dengan objek wisata yang mereka kunjungi,” katanya.

Untuk itu, menurut Widi, kemampuan menguasai pengetahuan tentang budaya daerah ini menjadi modal bagi pramuwisata untuk memberikan rasa puas kepada wisatawan.

Widi Melanjutkan, DIY memiliki banyak ragam budaya dan adat istiadat yang sampai saat ini masih dilestarikan  dan berkembang di tengah masyarakat.

Potensi budaya setempat dapat menjadi objek wisata yang menarik bagi wisatawan, misalnya tempat bersejarah, adat istiadat, masakan khas, serta kesenian tradisional. Oleh karena itu pengembangan sektor pariwisata seharusnya selalu dikaitkan dengan basis budaya di wilayah setempat.

Membawa Cita Rasa Indonesia di Lebanon

Kamis, 24 Juni 2010 | 13:51 WIB

KBRI Beirut

Juru masak Indonesia berfoto bersama GM Phoenician dan para pramusaji.

KOMPAS.com — Makanan mencerminkan budaya. Maka untuk memperkenalkan Indonesia dan budayanya, KBRI mendatangkan juru masak asal Indonesia ke Beirut. Hidangan yang disajikan juru masak itu pun menjadi sajian istimewa bagi para agen perjalanan Lebanon pada acara Indonesian Cuisine Week di Hotel Phoenicia, Beirut. Lewat jalur kuliner itu diharapkan nama Indonesia bisa semakin terdengar di sana.

“Selama satu minggu ke depan, hotel bintang lima di Lebanon ini menyuguhi hidangan khas Indonesia pada makan siang dan malam,” kata RA Arief, Kuasa Usaha Ad-Interim KBRI Beirut, seusai membuka acara tersebut pada Selasa (22/6/2010) dalam surat elektronik yang dikirimkan ke redaksi.

Menurut Arief, pihaknya sengaja mengundang para agen perjalanan dan pimpinan maskapai penerbangan internasional di Lebanon pada malam pembukaan ini. “Karena mereka merupakan ujung tombak penggaet turis asing dari berbagai negara ke Indonesia,” ujar Arief.

Tidak hanya makanan Indonesia yang disajikan, para seniman KBRI Beirut juga mementaskan lagu-lagu modern dengan iringan alat-alat musik tradisional Indonesia, seperti angklung, perkusi, dan gamelan. Tari topeng khas Jawa Barat ikut pula dipentaskan untuk menjamu undangan.

“Penampilan seni musik dan tari Indonesia ini akan mengiringi hingga beberapa hari ke depan sepanjang acara Indonesian Cuisine Week di hotel ini,” kata Ahmas Syofian, Sekretaris Ketiga Pensosbud KBRI Beirut.

Di pojok dan tengah ruangan, tataan dekorasi khas Indonesia menghiasi meja-meja buffet yang menjadi tempat sajian aneka makanan Tanah Air, seperti gado-gado, sate padang, soto madura, gudeg, dan ayam rica-rica. Sementara di pintu masuk restoran, video/film-film tentang potensi wisata Indonesia ikut ditayangkan. Setiap tamu yang mampir ke restoran juga mendapatkan brosur-brosur promosi pariwisata Indonesia.

Tidak ketinggalan ibu-ibu Dharma Wanita KBRI juga memasok aneka makanan ringan guna melengkapi sajian Indonesia selama acara tersebut.

Hal menarik lainnya malam itu adalah Miss Lebanon Martine Andraos yang baru saja kembali dari kunjungannya ke Indonesia ikut duduk di antara yang hadir. Kepada wartawan, Martine menyampaikan pengalamannya mengunjungi Padang, Jakarta, Bandung, dan Bali.

“Acara ini mengingatkan saya ketika menyantap makanan Indonesia di tengah sawah sambil melihat petani yang bercanda dengan kicau burung. Di kejauhan terlihat bukit hijau dan di sudut lain kita terpesona dengan pemandangan laut birunya,” ungkap peserta Miss Universe dan Miss World 2009 itu membayangkan makan siang di sebuah restoran di Bali minggu lalu.

“Indonesia merupakan paket yang lengkap, di mana tradisi dan alam yang indah berdampingan dengan kemajuan industri dan teknologi,” tutur Martine bersemangat.

Pada saat yang sama, Gerog Weinlaender, GM Hotel Phoenicia, menjelaskan, “Indonesia memiliki potensi yang besar di bidang pariwisata. Kegiatan Indonesian Cuisine Week diharapkan dapat menarik minat dan memperkenalkan Indonesia kepada para tamu yang tengah berlibur di Lebanon.”

Phoenicia merupakan salah satu hotel berbintang lima di Lebanon. Setiap musim libur (Juni-September), hotel ini menjadi tempat hunian favorit para turis asing dari Eropa dan Timur Tengah.

Taubatnya Malik Bin Dinar -Rohimahullah-

Kehidupanku dimulai dengan kesia-siaan, mabuk-mabukan, maksiat, berbuat zhalim kepada manusia, memakan hak manusia, memakan riba, dan memukuli manusia. Kulakukan segala kezhaliman, tidak ada satu maksiat melainkan aku telah melakukannya. Sungguh sangat jahat hingga manusia tidak menghargaiku karena kebejatanku.

Malik bin Dinar Rohimahullah menuturkan: Pada suatu hari, aku merindukan pernikahan dan memiliki anak. Maka kemudian aku menikah dan dikaruniai seorang puteri yang kuberi nama Fathimah.

Aku sangat mencintai Fathimah. Setiap kali dia bertambah besar, bertambah pula keimanan di dalam hatiku dan semakin sedikit maksiat di dalam hatiku.

Pernah suatu ketika Fathimah melihatku memegang segelas khamr, maka diapun mendekat kepadaku dan menyingkirkan gelas tersebut hingga tumpah mengenai bajuku. Saat itu umurnya belum genap dua tahun. Seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala -lah yang membuatnya melakukan hal tersebut.

Setiap kali dia bertambah besar, semakin bertambah pula keimanan di dalam hatiku. Setiap kali aku mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala selangkah, maka setiap kali itu pula aku menjauhi maksiat sedikit demi sedikit. Hingga usia Fathimah genap tiga tahun, saat itulah Fathimah meninggal dunia.

Maka akupun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Aku belum memiliki sikap sabar yang ada pada diri seorang mukmin yang dapat menguatkanku di atas cobaan musibah. Kembalilah aku menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Setanpun mempermainkanku, hingga datang suatu hari, setan berkata kepadaku: “Sungguh hari ini engkau akan mabuk-mabukan dengan mabuk yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Maka aku bertekad untuk mabuk dan meminum khamr sepanjang malam. Aku minum, minum dan minum. Maka aku lihat diriku telah terlempar di alam mimpi.

DI ALAM MIMPI TERSEBUT AKU MELIHAT HARI KIAMAT

Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumipun telah bergoncang. Manusia berkumpul pada hari kiamat. Manusia dalam keadaan berkelompok-kelompok. Sementara aku berada di antara manusia, mendengar seorang penyeru memanggil: Fulan ibn Fulan, kemari! Mari menghadap al-Jabbar. Aku melihat si Fulan tersebut berubah wajahnya menjadi sangat hitam karena sangat ketakutan.

Sampai aku mendengar seorang penyeru menyeru namaku: “Mari menghadap al-Jabbar!”

Kemudian hilanglah seluruh manusia dari sekitarku seakan-akan tidak ada seorangpun di padang Mahsyar. Kemudian aku melihat seekor ulat besar yang ganas lagi kuat merayap mengejar kearahku dengan membuka mulutnya. Akupun lari karena sangat ketakutan. Lalu aku mendapati seorang laki-laki tua yang lemah. Akupun berkata: “Hai, selamatkanlah aku dari ular ini!” Dia menjawab: “Wahai anakku aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah kearah ini mudah-mudahan engkau selamat!”

Akupun berlari kearah yang ditunjukkannya, sementara ular tersebut berada di belakangku. Tiba-tiba aku mendapati api ada dihadapanku. Akupun berkata: “Apakah aku melarikan diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri ke dalam api?” Akupun kembali berlari dengan cepat sementara ular tersebut semakin dekat. Aku kembali kepada lelaki tua yang lemah tersebut dan berkata: “Demi Allah, wajib atasmu menolong dan menyelamatkanku.” Maka dia menangis karena iba dengan keadaanku seraya berkata: “Aku lemah sebagaimana engkau lihat, aku tidak mampu melakukan sesuatupun, akan tetapi larilah kearah gunung tersebut mudah-mudahan engkau selamat!”

Akupun berlari menuju gunung tersebut sementara ular akan mematukku. Kemudian aku melihat di atas gunung tersebut terdapat anak-anak kecil, dan aku mendengar semua anak tersebut berteriak: “Wahai Fathimah tolonglah ayahmu, tolonglah ayahmu!”

Selanjutnya aku mengetahui bahwa dia adalah putriku. Akupun berbahagia bahwa aku mempunyai seorang putri yang meninggal pada usia tiga tahun yang akan menyelamatkanku dari situasi tersebut. Maka diapun memegangku dengan tangan kanannya, dan mengusir ular dengan tangan kirinya sementara aku seperti mayit karena sangat ketakutan. Lalu dia duduk di pangkuanku sebagaimana dulu di dunia.

Dia berkata kepadaku:

“Wahai ayah, “belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Qs. Al-Hadid:16)

Maka kukatakan: “Wahai putriku, beritahukanlah kepadaku tentang ular itu.”
Dia berkata: “Itu adalah amal keburukanmu, engkau telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakanmu. Tidakkah engkau tahu wahai ayah, bahwa amal-amal di dunia akan dirupakan menjadi sesosok bentuk pada hari kiamat? Dan lelaki yang lemah tersebut adalah amal shalihmu, engkau telah melemahkannya hingga dia menangis karena kondisimu dan tidak mampu melakukan sesuatu untuk membantu kondisimu. Seandainya saja engkau tidak melahirkanku, dan seandainya saja tidak mati saat masih kecil, tidak akan ada yang bisa memberikan manfaat kepadamu.”

Dia Rohimahullah berkata: Akupun terbangun dari tidurku dan berteriak: “Wahai Rabbku, sudah saatnya wahai Rabbku, ya, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” Lantas aku mandi dan keluar untuk shalat subuh dan ingin segera bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dia Rohimahullah berkata:
Akupun masuk ke dalam masjid dan ternyata imampun membaca ayat yang sama:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Qs. Al-Hadid: 16)
…..

Itulah kisah taubatnya Malik bin Dinar Rohimahullah yang beliau kemudian menjadi salah seorang imam generasi tabi’in, dan termasuk ulama Basrah. Dia dikenal selalu menangis sepanjang malam dan berkata: “Ya Ilahi, hanya Engkaulah satu-satunya Dzat Yang Mengetahui penghuni sorga dan penghuni neraka, maka yang manakah aku di antara keduanya? Ya Allah, jadikanlah aku termasuk penghuni sorga dan jangan jadikan aku termasuk penghuni neraka.”

Malik bin Dinar Rohimahullah bertaubat dan dia dikenal pada setiap harinya selalu berdiri di pintu masjid berseru: “Wahai para hamba yang bermaksiat, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai orang-orang yang lalai, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai orang yang melarikan diri (dari ketaatan), kembalilah kepada Penolong-mu! Penolong-mu senantiasa menyeru memanggilmu di malam dan siang hari. Dia berfirman kepadamu: “Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu hasta. Jika dia mendekatkan dirinya kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu depa. Siapa yang mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil.”

Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan rizki taubat kepada kita. Tidak ada sesembahan yang hak selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.

Malik bin Dinar Rohimahullah wafat pada tahun 130 H. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya dengan rahmat-Nya yang luas. (Misanul I’tidal, III/426).



Kehidupan Rasulullah Sebelum Diutus

Muhammad Sholallahu ‘Alaihi wa Salam dilahirkan di Makkah Al Mukarramah pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 571 M. Tahun tersebut adalah tahun ketika Abrahah Al Habsyi berusaha menghancurkan Ka’bah. Maka Allah menghancurkan Abrahah (dan tentaranya). Hal tersebut disebutkan di dalam surat Al Fiil.

Ayah beliau adalah Abdullah bin Abdil Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf. Ia meninggal sebelum Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dilahirkan. Oleh karena itu beliau dilahirkan dalam keadaan yatim.
Ibu beliau adalah Aminah bintu Wahb bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah. Setelah ibunya melahirkan, ia mengirim beliau kepada kakeknya. Ibunya memberikan kabar gembira kepada sang kakek dengan kelahiran cucunya. Maka kakeknya datang dengan menggendong-nya. Sang kakek memasuki Ka’bah bersama beliau. Kakeknya berdoa bagi beliau dan menamai beliau Muhammad.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan (aku) memberikan kabar gembira dengan seorang rasul yang datang sesudahku yang bernama Ahmad (Muhammad).” (QS. Ash Shaff: 6).

Nasab beliau dari sisi ayah adalah: Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai bin ghalib bin Fihr bin Malik bin AnNadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazzar bin Ma’ad bin Adnan. Adnan termasuk keturunan Ismail bin Ibrahim ‘Alaihimussallam. Nasab ayah Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam bertemu dengan nasab ibu beliau pada Kilab bin Murrah.

MASA PENYUSUAN NABI SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALAM

Di masa itu, orang-orang mulia suku Quraisy mempunyai sebuah kebiasaan untuk menyerahkan anak-anak mereka kepada para ibu susuan yang berasal dari desa (pedalaman). Agar di tahun-tahun pertama kehidupannya sang anak hidup di udara pedalaman yang segar, sehingga badannya menjadi kuat karenanya.

Oleh karena itu Abdul Muthallib mencari ibu susuan bagi Muhammad Sholallahu ‘Alaihi wa Salam. Ketika itu datanglah wanita-wanita dari bani Sa’ad di Makkah. Mereka mencari anak-anak untuk disusui. Di antara mereka adalah Halimah As Sa’diyyah. Semua wanita itu telah mengambil anak untuk disusui kecuali Halimah. Ia tidak menemukan selain Muhammad. Pada mulanya ia enggan mengambil beliau dikarenakan beliau adalah anak yatim tanpa ayah. Namun ia tidak suka kembali tanpa membawa anak susuan. Akhirnya Halimah mengambil beliau karena tidak ada bayi selain beliau untuk disusui.

Halimah mendapatkan banyak dari barakah Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam selama menyusui beliau. Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam menetap di Bani Sa’ad selama dua tahun, selama masa penyusuan. Kemudian Halimah membawanya ke Makkah. Ia membawanya kepada ibu beliau, Halimah meminta, agar beliau bisa tinggal bersamanya lebih lama lagi.

Kemudian Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam mencapai usia lima tahun. Di usia itu terjadi peristiwa pembelahan dada beliau. Jibril datang kepada Muhammad Sholallahu ‘Alaihi wa Salam. Ketika itu beliau tengah bermain-main bersama anak-anak lain. Jibril mengambil beliau kemudian melemparkannya ke tanah. Ia mengambil jantung beliau. Ia mengeluarkan segumpal darah dari jantung tersebut. Kemudian ia berkata: “Ini adalah bagian syaithan dari dirimu.”

Lalu ia mencucinya dalam baskom emas dengan air zam-zam. Kemudian Jibril mengembalikan jantung itu seperti semula. Anas Radhiyallahu’anhu, perawi hadits ini mengatakan: “Sungguh aku telah melihat bekas sobekan di dada beliau.” ­­

Maka kemudian Halimah mengetahui kejadian ini. Ia pun mengkhawatirkan keselamatan beliau. Sehingga ia mengembalikan beliau kepada sang ibu.

MENINGGALNYA IBU RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALAM
DAN PENGASUHAN SANG KAKEK

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam dikembalikan oleh Halimah. Beliau pun tinggal bersama sang ibu. Ketika beliau mencapai usia enam tahun, Aminah membawanya ke Yatsrib. Mereka menunjungi paman-paman beliau. Mereka adalah saudara Aminah dari Bani An Najjar.

Aminah pergi bersama Ummu Aiman, pengasuh Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam. Di perjalanan pulang dari Yatsrib, ibu beliau meninggal. Ia meninggal di suatu tempat yang disebut Al Abwa’. Al Abwa’ berada di antara Makkah dan Madinah. Maka Ummu Aiman kembali ke Makkah bersama beliau. Kemudian beliau diasuh oleh sang kakek Abdul Muthallib.

Sumber: Muqarrar al-Mustawa Ats Tsalits fis Siratin Nabawiyyah—Syu’bah Ta’lim al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Jami’ah al-Islamiyyah, Madinah.