Archive for April, 2010

Potret Perjalanan Islam Mewarnai Gabon

DUNIA ISLAM

19 April 2010 – 13:30 WIBB
LIBREVILLE–Islam telah hadir Gabon sejak abad ke-12 silam. Ketika itu, terjadi penyebaran Islam yang cukup gencar di kawasan Afrika Barat melalui peran suku Barber. Mereka sangat gigih dalam berdakwah kendati harus melintasi Gurun Sahara dan Sahel. Mereka berdakwah kepada penduduk asli Afrika sambil berdagang garam dan kebutuhan pokok lain untuk ditukar dengan gading, budak, dan emas. Para pedagang Muslim yang datang ke Afrika Barat bukan untuk memurtadkan, melainkan mempraktikkan ajaran Islam dan menarik simpati penduduk maupun pemerintah setempat, hingga menjadikan mereka sebagai penasihat.

Penyebaran Islam di Gabon melalui dua pintu utama. Pertama dari timur, yakni melalui Lautan Hindia, dan kedua dari arah utara, melalui padang pasir yang kering dan tandus. Dari dua jalur utama itulah Islam tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat asli. Masuknya Islam ke Gabon bersamaan dengan gelombang masuknya Islam ke Mali, Nigeria, Senegal, Gambia, dan Guinea. Di sini, suku Fulani memegang peranan sangat besar dalam mengislamkan sebagian masyarakat Gabon.

Saat ini, jumlah pemeluk Islam di Gabon sekitar satu persen dari total populasi sebanyak 1,4 juta jiwa atau 14 ribu. Mereka terdiri dari suku Fulani (Fulbe), Hausa, Wolof, Soninke, dan Arab. Meskipun hanya minoritas, umat Muslim Gabon mempunyai pengaruh yang signifikan dalam kehidupan bernegara. Pada kenyataannya, Islam dipraktikkan oleh 1,2 persen penduduk Gabon. Sebagian dari mereka adalah orang asing yang berasal dari negara-negara tetangga di Afrika Barat dengan jumlah penduduk Muslim terbesar, antara lain Senegal, Gambia, Guinea, Niger, Nigeria, Mali, Burkina Faso, dan Pantai Gading.

 

(http://www.republika.co.id)

Masjid Pertama di Ohio Kembali Beroperasi

DUNIA ISLAM

06 April 2010 – 11:53 WIBB
OHIO -Bagi banyak Muslim di Amerika Serikat, Masjid Toledo, atau yang bernama asli Toledo Masjid al-Islam mempunyai catatan tersendiri. Masjid yang pertama di Toledo dan kesembilan di AS ini, menjadi saksi jatuh bangunnya umat Islam negeri ini. Didirikan tahun 1954, masjid ini mengalami buka-tutup beberapa kali.

Pertama kali didirikan, masjid yang masih merupakan Islamic center ini nempel di salah satu ruangan di dua bangunan di East Bancroft Street, pada Oktober 1954. Tahun 1983, Islamic Center Toledo ini pindah ke Perrysburg Township. Di Toledo, kegiatan vakum. Hingga beberapa bulan lalu, sebuah bangunan tua di pusat kota ditawarkan pada Toledo Masjid al-Islam. Mereka pun minta waktu untuk menggalang dana. Bulan Maret, bangunan megah itupun terbeli.

Sebelumnya, bangunan ini merupakan pusat kegiatan pemuda Connecting Point. Selain itu juga menjadi kantor beberapa instansi pemerintah, termasuk pusat membagian kupon makan gratis bagi warga kurang mampu. Tak banyak perubahan yang dilakukan untuk menyulap gedung itu menjadi masjid. Tembaga khas kubah masjid yang telah dihiasi dengan bulan sabit dan bintang dipasang di salah satu atapnya. Jendela tinggal diubah menjadi bentuk melengkung. Kini, masjid telah siap beroperasi. Kami telah menerima banyak dukungan dari warga Toledo, kata Imam Syamsuddin Waheed. Setiap masjid di kota ini telah memberikan dukungan yang signifikan untuk proyek ini. Mereka telah memberikan dengan murah hati. Bangunan 3.800 meter persegi ini dibeli dengan harga 60 ribu dolar AS. Bagaimana bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu beberapa bulan saja? Rupanya, 50 jamaah bergerak bersama mengumpulkan dana. Termasuk untuk renovasi. Sungguh ini menjadi bukti, kalau kita bekerja bersama, maka tak ada halangan yang tak bisa dilalui, tambah Shamsuddin.

Bagi John Shousher, 81 tahun, melihat masjid Toledo kembali berdiri, ingatannya seperti kembali ke masa 1954. Saat itu dengan cara yang sama — patungan dan menggalang dana bersama — kaum Muslim Toledo mendirikan masjid pertama. Itu masjid pertama di Toledo dan di negara bagian Ohio. Hati kami ada padanya, ujarnya.

(http://www.republika.co.id)

Muslim Volklingen Ubah Bioskop jadi Masjid

DUNIA ISLAM

25 Maret 2010 – 12:09 WIBB
BERLIN–Umat Islam di Jerman kini mempunyai masjid baru, Masjid Voklingen. Masjid yang berada di kota Volklingen yang berbatasan dengan Prancis itu kini menjadi duta baru bagi umat Islam kota itu. Masjid itu didirikan di atas gedung bioskop yang dibeli seorang Muslim dan dihibahkan untuk diubah menjadi masjid. Islamofobia sempat singgah di Volklingen, wilayah di Jerman yang berbatasan dengan Prancis.

Kota ini sebelumnya dikenal sebagai duta mutikultural Jerman. Adalah para politisi partai sayap kanan yang menolak rencana pembangunan masjid di wilayah itu. Mereka mengajak seluruh kota untuk bersikap sama seperti Swiss, menolak pendirian masjid dan menaranya, yang disebutnya sebagai ayonet umat Islam. Namun, dagangan mereka tak laku. Warga tetap meneken petisi pembangunan masjid yang diajukan umat Islam. maka berdirilah di sana: masjid agung dengan tiga kubah dan satu menara.

Apa yang membuat warga mendukung? Tak lain adalah pendekatan yang dilakukan para aktivis Muslim kota itu. Mereka membuka diri dan menunjukkan Islam adalah agama yang inklusif dan toleran. Mereka membuka diri untuk bekerja sama dengan siapa saja, dan mendukung program kota. Saat berencana membangun masjid, kami melakukan pendekatan dan dialog. Dan itu masih terus kami lakukan hingga kini, ujar Atnen Atakli, ketua takmir masjid. Saat itu, mereka belum mempunyai gambaran apakah masjid itu akan bermenara atau tidak. Prinsip mereka, Sebuah masjid adalah sebuah masjid, apakah memiliki menara atau tidak. Völklingen menyambut migran, terutama dari Turki, yang datang pada 1960-an dan 1970-an sebagai pekerja saat booming industri pada era itu.

Kini, industri di kota itu menyurut. Penduduk kota menyusut menjadi di bawah 40 ribu tahun, hampir sama dengan jumlah penduduk tahun 1974 sebanyak 48 ribu. Ridvan Carpar, imigran Turki, datang ke negeri ini bersama orang tuanya saat ia berusia 5 tahun. Ia mengaku tenteram hidup di kota ini. Sampai sekarang, kami tidak pernah punya masalah, ujarnya.

(The New York Times , Sumber: http://www.republika.co.id)

HIMPUH Dorong Pelayanan Lebih Baik

HIMPUH News

25 Maret 2010 – 12:43 WIBB
JAKARTA- Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH) menghendaki pengurusan haji khusus dikembalikan ke khittahnya. Ini artinya biro penyelenggara umrah dan haji khusus harus memberikan pelayanan yang baik pada jamaah, tak sekadar memberangkatkan dan memulangkan.

Kami menghendaki pengurusan haji khusus dikembalikan ke semangat awal kelahirannya. Sebab pada awalnya, kelahiran program ini adalah untuk melayani mereka yang tak memiliki banyak waktu dan membutuhkan pelayanan dalam berhaji, kata Ketua Umum HIMPUH, Baluki Ahmad, di Jakarta, Kamis (11/2).

Baluki yang berbicara di sela-sela Musyawarah Kerja (Muker) I HIMPUH mengatakan, pelayanan yang lebih baik harus menjadi perhatian bagi biro penyelenggara umrah dan haji khusus. Tak hanya sekadar memberangkatkan dan memulangkan jamaah. Dalam pengamatannya selama ini, kata Baluki, ada pergeseran dari semangat wal kelahiran program haji khusus tersebut. Ada biro penyelenggara umrah dan haji khusus, yang tak terlalu memperhatikan pelayanan bagi para jamaahnya. Memang, ungkap Baluki, mungkin masyarakat tak mengeluh atas pelayanan yang seperti itu. Namun, mestinya hal itu tak dilakukan oleh biro penyelenggara. Ia mengakui, memang sudah ada standardisasi dalam pelayanan namun ternyata pengawasannya longgar.

Baluki juga berharap, kuota jamaah haji khusus tak lagi pada perorangan. Namun mestinya, dikembalikan ke penyelenggara atau biro perjalanan umrah dan haji khusus. Dalam hal ini, kami tetap sepakat dengan sistem first come first serve. Namun, ujar Baluki, kembalikan pengurusan kuota tersebut ke biro penyelenggara umrah dan haji khusus. Dalam Muker, kata dia, juga dibahas mengenai sejumlah masalah krusial, di antaranya masih perlu tidaknya pola pendaftaran haji khusus seperti yang selama ini berlaku. Di sisi lain, Baluki juga mengungkapkan kekecewaannya kepada Kementerian Agama. Sebab, Menteri Agama (Menag), Suryadharma Ali, ataupun pejabat Kementerian Agama lainnya tak satu pun yang hadir dalam Muker itu.

(http://bataviase.co.id)

Daftar Tunggu Calhaj Sumut Sampai 2014

SERBA SERBI HAJI-UMRAH

09 Maret 2010 – 12:59 WIB
MEDAN – Antusias masyarakat Sumatera Utara (Sumut) untuk menunaikan ibadah haji mengalami peningkatan. Pertanggal 3 Maret, jumlahnya mencapai 37.770 orang dengan uang setoran mencapai 20 juta perorang.

Hal itu berarti daftar tunggu calon haji (calhaj) dari Sumut sudah sampai 2014. Kabid haji Kanwil Depag Sumut, Abdul Rahman Harahap, mengatakan minat masyarakat Sumut menunaikan ibadah haji terus mengalami peningkatan. Alasan ini pula pihaknya sudah meminta kepada Kementrian Agama RI untuk menambah kuota haji di Sumut.

“Kuota yang diperoleh hanya 80.134 orang, sehingga masa tunggu bagi seseorang untuk bisa berangkat menunaikan ibadah haji sangat terbatas,” kata Harahap, kemarin (5/3). Menurutnya, kalau dihitung jumlah pendaftar dan kuota yang ada, setidaknya pendaftar tahun ini baru mendapatkan porsi haji empat tahun mendatang. Artinya, mendaftar di tahun 2010, baru bisa diberangakatkan tahun 2014. Jika kuota ditambah, diperkirakan waktu tunggunya tidak begitu lama. Hanya saja, sampai sampai saat ini, permintaan tambahan kuota itu belum ditanggapi Depag.

“Kami bisa memaklumi itu, karena prosedurnya memang harus ditanyakan lagi kepada pihak Arab Saudi, apakah mereka bisa memberikan penambahan atau tidak. Harapan kita tentunya terjadi penambahan, agar calon jamaah haji tidak terlalu lama menjadi peserta daftar tunggu setiap tahunnya, katanya.

(www.republika.co.id)

Indonesia Minta Tambahan Kuota Haji

INFORMASI HAJI

13 April 2010 – 10:50 WIB
JAKARTA–Menteri Agama, Suryadharma Ali, mengatakan konfirmasi dari Kerajaan Arab Saudi soal kouta haji Indonesia untuk 2010 akan disampaikan pada Juni ini, yakni ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melawat ke Arab Saudi.

“Saya berharap nanti jawaban itu diberikan ketika Presiden berkunjung ke sana,” kata Menag di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (12/4). Indonesia meminta tambahan kuota haji kepada Arab Saudi.

“Kami juga meminta kepada Pemerintah Arab Saudi melalui Menteri Urusan Haji, Dr Fuad Abdus Salam Al Farsi, agar ada penyesuaian jumlah kuota jamaah haji, minta ditambah, istilahnya penyesuaian,” ungkapnya. Terkait dengan kuota jemaah haji, Surya menyebutkan, saat ini Indonesia baru mendapatkan jatab 207 ribu.

Kemudian, kuota ditambah tiga ribu menjadi 210 ribu. “Saya meminta agar bisa ditingkatkan menjadi 235 ribu. Jadi, ya sebagai satu upaya untuk 2010,” ungkapnya. Saat ini, kata Surya, sudah 48 persen dari total jemaah yang sudah dekat (ring I) dengan Masjidil Haram. “Nah, yang lalu cuma 27 persen, kalau sekarang 48 persen, kisaran 50-60 persen, Insya Allah tercapai pada 2010,” janjinya. Pemondokan yang masuk ring I itu, berjarak 0-2 ribu meter dari Masjidil Haram, pada 2009 sebanyak 27 persen. Sedangkan, jarak terjauh dari Masjidil Haram pada 2009 adalah tujuh kilometer.

“Sekarang jarak terdekat empat kilometer dan sudah mencapai kira-kira 23 persen dari kebutuhan,” paparnya.

(www.republika.co.id)

Pemondokan Haji Kian Dekat

INFORMASI HAJI

13 April 2010 – 10:44 WIB

JAKARTA – Calon Jemaah Haji 2010 akhirnya bisa bernapas lega. Pada musim haji mendatang dipastikan tak akan ada lagi jemaah bakal mengeluhkan letak pemondokan mereka yang sangat jauh dari masjidil haram.

Menteri Agama RI, Suryadarma Ali, mengatakan, pihaknya merasa bahagia, tekad untuk memperdekat pemondokan bagi jemaah haji tercapai. Tentu saja, kebahagiaan pihaknya, kata Suryadarma juga kebahagiaan bagi para calon haji yang akan datang.

“Target kementerian agama untuk mendekatkan pemondokan tercapai,” kata Suryadarma saat konferensi pers di Bandara Sukarno Hatta, Tangerang, Ahad (11/4). Menurut Suryadarma, pada 2009 lalu jarak terjauh mencapai hingga 7 kilometer. Sementara tahun 2010 jarak terjauh hanya 4 kilometer.

“Dengan perubahan tersebut, kami sangat gembira,” ungkapnya. Sedangkan di Madinah, menurutnya, tim penyewaan perumahan telah merencanakan penempatan jemaah di wilayah Markaziah, minimal 90 persen. Sedangkan tahun 2009 lalu, jamaah yang mondok di wilayah tersebut hanya mencapai 83,52 persen. “Sampai saat ini masih dalam proses verifikasi administrasi,” papar Ketua Umum PPP ini. Begitupun hotel transito di Jeddah. Di hotel tersebut, pihak Kementerian RI, juga masih menyelesaikan persoalan administrasi. “Namun yang pasti, insyaallah, jemaah haji 2010 lebih baik.”

(www.republika.co.id)