DUNIA ISLAM

31 Agustus 2009 – 11:39 WIBB
Puasa 17 Jam di Belanda
Puasa 17 Jam di Belanda By Republika Newsroom Senin, 31 Agustus 2009 pukul 10:02:00 Perlu banyak minum air putih ketika saahur. Puasa di Belanda mencapai 17 jam per hari. Tapi, tidak masalah bagi saya, semoga pahalanya lebih banyak, kata Muhammad Gibran (24 tahun).Tiga tahun tinggal di Belanda, Gibran selalu bertemu Rmadhan di musim panas. Puasa di musim panas di Belanda dimulai pukul 04.45 Central Euro Time (CET) hingga pukul 21.00 CET. Gibran, asli Indonesia, kini tinggal di Leiden. Insinyur yang satu ini bekerja di Heerema Marine Contractor Nederland BV. Ia tinggal di Belanda sejak 2 September 2007. Bagi Annisa Gita Srikandini (23), puasa tahun ini menjadi pengalaman pertamanya. Cobaan pertama yang ia rasakan adalah rasa haus yang teramat sangat. Hal tersebut disebabkan karena ia mengayuh sepeda, setiap bepergian. Orang-orang Indonesia harus banyak-banyak minum air putih ketika sahur, jika ingin kuat berpuasa di sini, kata perempuan asal Yogyakarta itu yang tinggal di Groningen itu. Selama Rmadhan ini, mahasiswi yang mengikuti program Erasmus Mundus di Universitas Groningen itu melihat indahnya toleransi. Ia terkesan dengan beberapa temannya yang menghormati puasanya. Teman dari India mengaku kaget ketika ia bercerita dirinya berpuasa 17 jam sehari. Meski berpuasa di musim panas, Gibran mengaku menikmati Ramadhan di Belanda. Acara buka bersama atau tajilan hampir selalu digelar oleh komunitas-komunitas Muslim di setiap masjid. Suasananya menyenangkan dan saya suka bisa berbaur dengan mereka, kata Gibran. Selain itu, komunitas Muslim di Belanda juga mudah menjalankan ibadahnya. Hampir selalu dijumpai masjid di setiap kota. Setiap kota hampir selalu memiliki tiga sampai empat masjid, ada masjid Maroko, masjid Turki, bahkan masjid Indonesia, ujar dia. Berbagai informasi tentang Ramadhan juga mudah di jumpai di masjid. Ada informasi jadwal shalat, jadwal puasa, acara tadarus, pengajian, tausyiah, badan zakat, idul kurban, bahkan infomasi mengenai penyelenggaraan ibadah haji. Di masjid, kata Gibran, mereka tak memdulikan negeri asal. Bersama mahasiswa dari Indonesia, Gibran sering mengadakan pengajian, tadarus, buka bersama, dan tarawih berjamaah. Biasanya dilakukan pada akhir pekan dan bergiliran dari rumah ke rumah, ujar Gibran. Tapi, ada tantangan di Belanda. Tidak ada dispensasi waktu kerja atau belajar, kata Gibran. Namun, hal tersebut justru memacu Gibran untuk membuktikan bahwa puasa bisa menambah produktivitas kerja dan tetap bersemangat. nan  (HIMPUH)