Sabtu, 29 Mei 2010 | 13:52 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS – Becak tak sekadar alat transportasi, tetapi berpotensi dikembangkan sebagai ikon wisata di DIY. Modernisasi becak perlu agar terus bertahan di tengah kompetitifnya kemajuan teknologi transportasi.

Institut Studi Transportasi (Instran), misalnya, mengembangkan dan mempromosikan becak sebagai alat transportasi berkelanjutan dan ramah lingkungan. Beragam inovasi dilakukan, antara lain mengubah becak menjadi lebih ringan. Berat becak kosong yang bisa mencapai 120 kilogram disiasati tinggal 80-85 kilogram.

Semakin ringan becak, menurut Direktur Eksekutif Instran Darmaningtyas, tenaga yang dikeluarkan untuk mengayuh menjadi lebih kecil sehingga memangkas mahalnya ongkos becak. “Ongkos becak semakin mahal, yaitu Rp 5.000 untuk jarak kurang dari 1 kilometer, karena besarnya tenaga yang dibutuhkan untuk mengayuh,” ujarnya, Rabu (26/5).

Modernisasi becak oleh Instran, antara lain, mengganti bahan baku selebor becak dari kayu jati menjadi baja atau aluminium. Rangka becak diganti menggunakan besi pipa yang lebih ringan. Selain ringan dikayuh, becak dengan inovasi baru pada sistem suspensi ini lebih stabil dan aman, khususnya ketika berbelok tajam.

Tempat duduk penumpang dibuat lebih lapang dan nyaman karena 5 sentimeter lebih lebar. Pijakan kaki juga dirancang rendah sehingga memudahkan penumpang naik turun. Sebanyak 40 becak yang mampu mengangkut beban hingga 400 kilogram itu pernah dipesan Dinas Pariwisata DIY tahun 2006. Dikirm ke luar negeri

Menurut Darmaningtyas, lima becak hasil inovasi sempat dikirim ke Belanda tahun 2008 dan dua becak ke Amerika Serikat. Selain becak produksi Instran, saat ini hanya tersisa satu produsen becak, yaitu Sinar Laut di Bantul, yang hanya melayani pembuatan becak sesuai pesanan.

Penelitian Danang Parikesit dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada menunjukkan, pendapatan tukang becak terus menurun dari tahun ke tahun. Padahal, semua pengemudi becak adalah orang miskin yang tidak memiliki alternatif pekerjaan lain.

Oleh karena itu, Darmaningtyas mengimbau pemerintah agar tidak membatasi jumlah becak di DIY. Revitalisasi becak diperlukan agar lebih nyaman dan aman sehingga banyak mendatangkan wisatawan.

“Pembatasan jumlah becak akan makin mendorong ketergantungan masyarakat pada angkutan bermotor,” ujarnya. (WKM)

About these ads